Article: Kagumi Stalin dan Mao Zedong, Tapi Tak Pernah Dengar Nama Nelson Mandela

Korea Utara (Korut) adalah negara paling terisolir di dunia yang ironisnya terletak di antara dua negara yang maju, China dan Korea Selatan. Setertutup apakah kondisinya?

Hingga kemarin, sehari setelah mengumumkan kematian pemimpinnya, Kim Jong-il, Korut masih menutup diri dari dunia luar. Sementara, di luar sana, kekhawatiran terhadap apa yang akan terjadi di negara paling tertutup di dunia yang sedang berusaha membangun gudang nuklir itu.

Dalam sebuah tanda berkabung negara itu benar-benar menutup diri dari dunia luar setelah kematian sang Dear Leader, beberapa orang terlibat menyeberang ke Dandong, perbatasan dengan China, satu-satunya sekutu utama Korut dan satu dari sedikit negara yang punya hubungan dagang aktif.

“Kita tidak bisa masuk sekarang karena kematian Kim Jong-il,” papar Yu Lu, seorang pedagang asal China di Dandong yang melakukan bisnis di Korut, kepada Reuters. “Semuanya benar-benar ditutup dan pada umumnya, semua warga Korut pulang. Negara itu benar-benar tertutup ketat hari ini (kemarin).”

Tapi, tidak jelas apakah perbatasan itu ditutup secara resmi. Orang China yang melakukan bisnis di Dandong memaparkan, meski kemarin masih memungkinkan untuk menyeberang ke perbatasan, banyak yang memilih membatalkan perjalanan mereka, karena khawatir perbatasan bakal ditutup.

“Kami khawatir perbatasan bisa ditutup kapan saja karena aktivitas berkabung dan tak ada yang mau terjebak di Korut kalau perbatasan ditutup,” ujar Yu Lu.

Sementara, seorang pengusaha China yang punya hubungan dekat dengan Korut memaparkan, perlintasan perbatasan Wongjong dengan Rusia dibuka. Tapi, tidak ada orang yang menggunakannya untuk masuk Korut. “Banyak orang asing yang memilih pergi,” papar dia.

Korut yang Sangat Tertutup

Sebenarnya seperti apakah kehidupan di Korut? Dua wartawan BBC yang berkesempatan mengunjungi negara itu pada 2010 menuturkan kehidupan di Korut bisa terbilang aneh.

Pembawa acara televisi pemerintah yang membacakan berita tentang kematian Kim dan berusaha terus terlihat menangis di depan kamera tentu sudah menjadi sesuatu yang aneh dilihat. Tapi, warga yang kemudian menangis histeris di jalanan Pyongyang setelah mendengar kabar itu adalah sebuah fenomena.

Yah, bertahun-tahun, warga Korut telah didoktrin untuk mengabdikan diri kepada pendiri negara itu, Kim Il-sung, sang Great Leader yang meninggal pada 1994, dan sang Dear Leader tentunya.

Dua wartawan BBC itu, Sue Lloyd Roberts dan Michael Bristow memaparkan, dua hal itu belumlah terlalu aneh, karena ada banyak aspek kehidupan di Korut yang ternyata lebih aneh lagi.

Roberts menuturkan, dirinya terpukau dengan fasihnya mahasiswa setempat berbahasa Inggris. Salah satu mahasiswanya memaparkan, semua itu berkat Kim. “Kami diizinkan menonton film Amerika dan Inggris, seperti The Sound of Music,” ujar mahasiswa itu.

Ketika ditanya siapa pemimpin dunia, selain Kim, yang dia kagumi, pria muda itu lekas menjawab,”Stalin dan Mao Zedong!”

Tapi, tak satupun mahasiswa di universitas itu pernah mendengar nama Nelson Mandela.

Saking tertutupnya Korut dari dunia luar, sekitar 3.000 warga Korut yang lari dari negara itu justru merasa mereka baru saja datang ke planet lain. Kondisi di negara tetangga Korut seperti Korsel dan China yang sudah maju teknologinya membuat mereka terkaget-kaget.

Warga Korsel bisa menggunakan telepon seluler (ponsel) untuk membayar di supermarket dan koneksi broadband perorangan yang lebih cepat dari negara lain di dunia dan jika Anda narsis, ada kamera dan keyboard layar sentuh di sepanjang jalanan pusat perbelanjaan yang membuat Anda bisa mengirimkan foto narsis ke teman Anda.

Orang-orang yang baru datang dari Korut menghabiskan beberapa bulan pertama di sekolah khusus pemerintah untuk belajar bagaimana bisa beradaptasi dengan kehidupan dan teknologi Abad 21.

Kekagetan mereka terhadap kehidupan di Korsel tentu beralasan. Di negara asal mereka, tak satu orang pun punya akses ke internet. Sebenarnya, Korut punya intranet internal khusus seperti yang ditunjukkan di Universitas Pyongyang. Tapi, sistem itu tidak mengizinkan penggunanya berhubungan dengan dunia luar. “Dear Leader sangat baik karena memberikan apa yang kami butuh ketahui di sistem intranet kami,” ujar seorang mahasiswa.

Sementara, kehidupan sehari-hari di negara itu seolah jauh dari teknologi. Michael Bristow dari BBC menuturkan, orang-orang masih memotong rumput di pinggir jalan dengan gunting dan mencuci trotoar kota dengan sikat dan kain lap, bahan yang biasanya digunakan di rumah.

Politik ada di semua tempat di Korut—bahkan di bunga sekalipun. Nama Kim Jong-il dan Kim Il-sung bahkan diabadikan untuk nama bunga. Kedua bunga itu adalah Kimjongilia dan Kimilsungia.

Photo Courtesy: AFP/JOHN MACDOUGALL
The printed version of this article is published on Wednesday, December 21, 2011

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s