News: AL Amerika Tempatkan Kapal di Singapura

ANGKATAN Laut (AL) Amerika Serikat (AS) bakal menempatkan beberapa kapal perang baru di Singapura dan mungkin di Filipina dalam beberapa tahun ke depan.

Rencana ini tampaknya bakal memicu kekhawatiran China yang merasa dikepung dan ditekan atas perselisihan di Laut China Selatan. Analis pertahanan regional menyebut, kapal-kapal itu kecil, tapi mereka menyepakati simbolisme langkah itu. Pengumuman penempatan kapal itu muncul setelah Washington memaparkan menambah kekuatan militer mereka di Asia.

Bulan lalu, AS dan Australia mengumumkan rencana memperdalam kehadiran AS di kawasan Asia Pasifik. Washington bakal menempatkan 2.500 marinir AS yang beroperasi di basis de facto mereka di Darwin, kawasan utara Australia.

Dalam tulisannya di Proceedings, yang dipublikasikan di US Naval Institute bulan ini, Kepala Operasi AL AS Laksamana Jonathan Greenert memaparkan, dalam beberapa tahun ke depan AL AS bakal meningkatkan fokus mereka di “persimpangan maritim” strategis di kawasan Asia Pasifik.

Dia menuturkan, AL berencana menempatkan beberapa kapal pesisir terbaru mereka di fasilitas AL Singapura, sebagai tambahan rencana penempatan marinir di Darwin tahun depan yang diumumkan Presiden AS Barack Obama. “Ini akan membantu AL mempertahankan posisi global dengan sekelompok kapal dan pesawat yang lebih kecil dibanding sekarang,” tulis Greenert dikutip Reuters.

Kapal perang pesisir adalah kapal tipis yang beroperasi di perairan pesisir pantai dan bisa melawan ranjau pantai, kapal selam diesel dan kapal bersenjata yang kecil dan cepat.

“Kalau kita membawanya ke konteks, ini adalah skala pasukan yang relatif kecil dan kapal perang itu adalah kapal yang relatif kecil,” ujar Euan Graham, mahasiswa senior S-3 di Maritime Security Program di S. Rajaratnam School of International Studies, di Singapura. “Pengepungan adalah frasa yang muncul dalam debat China mengenai strategi AS. Mereka tidak akan suka, tapi mereka tak bisa apa-apa untuk menghentikannya.”

Greenert menulis, kapal itu bakal berfokus di Laut China Selatan, melakukan operasi untuk melawan pembajak dan penyelundupan, yang merupakan dua hal endemik di area itu. “Pada 2025, pesawat P-8A Poseidon atau kendaraan udara pengintai maritim area luas tak berawak secara periodik ditempatkan di Filipina atau Thailand untuk membantu negara-negara itu untuk meningkatkan kesadaran maritim,” tulis Greenert.

Sebuah sumber yang mengikuti briefing mengenai rencana AL itu memaparkan ada juga pembahasan mengenai penempatan kapal di Filipina.

Kapal perang pesisir (LCS) yang bakal ditempatkan itu sedang dikembangkan dengan pengawasan Lockheed Martin Corp, Austal dari Australia, General Dynamics Corp dan pembuat lain senjata yang sedang menembangkan dua model baru kapal perang untuk AL AS dan berharap bisa menjualnya ke negara lain.

“Karena kami mungkin tidak akan mampu menanggung biaya finansial dan diplomatik untuk membuat markas operasi utama baru di luar negeri, armada 2025 akan lebih bergantung pada dermaga dan fasilitas lain di negara itu dimana kapal, pesawat dan kru kami bisa mengisi bahan bakar, istirahat, mendapatkan suplai, dan melakukan perbaikan saat ditempatkan,” ujar Greenert.

Ernie Bower dari Center for Strategic and International Studies menuturkan, strategi yang muncul untuk Asia Tenggara itu jauh berbeda dari basis AS yang dibangun di Jepang dan Korea Selatan. “Kami mengeksplorasi rencana baru dengan jejak lebih kecil, itu spesifik-misi, dan secara budaya dan politik lebih menyenangkan bagi negara lain,” ujarnya. Dia menambahkan, akan sulit bagi Washington untuk mendapatkan dukungan politik untuk membangun markas besar di kawasan itu.

Greenert tidak membeberkan kapan tepatnya LCS itu ditempatkan di Singapura.

Di Filipina, sekutu AS yang sudah beberapa kali bersengketa dengan China atas Laut China Selatan, langkah itu disambut baik. “Kami bersama di Asia Pasifik dan menghadapi tantangan keamanan yang sama,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Filipina Peter Paul Galvez. “Kami melihat beberapa tantangan keamanan dimana kami benar-benar harus saling bisa beroperasi dan melakukan latihan termasuk penanganan bencana, ancaman terorisme, kebebasan navigasi, pembajakan dan perdagangan manusia. Kami tak bisa membantah bahwa kami butuh bantuan mereka (AS) dalam aspek itu.”

Sengketa kepemilikan karang kaya minyak dan pulau di Laut China Selatan adalah salah satu ancaman terbesar di Asia. Laut itu diklaim seutuhnya atau sebagian oleh China, Taiwan, Filipina, Malaysia, Vietnam dan Brunei.

Rute terpendek antara Samudera Pasifik dan Hindia, Laut China Selatan memiliki jalur perkapalan tersibuk di dunia. Lebih dari separuh lalu lintas tanker minyak melintasi kawasan ini.

Pada KTT Asia Timur November lalu, Obama memaparkan kepada Perdana Menteri China Wen Jiabao bahwa AS ingin memastikan bahwa jalur laut itu tetap terbuka dan damai. Dalam pertemuan itu, pejabat AS menyebut Wen “menggerutu” ketika negara lain di Asia bersekutu dengan Washington. Menurut Wen, “pasukan asing” tak punya hak terlibat dalam sengketa maritim itu.

Photo Courtesy: AFP PHOTO / STR
This article was published on Saturday, December 17, 2011

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in News and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s