Article: Dimana Makam Mereka?

Jenazah Osama bin Laden dikuburkan di laut agar pengikutnya tidak berziarah ke makamnya. Osama bukan satu-satunya tokoh yang penguburannya kontroversial.

Tak semua tokoh terkenal di dunia mendapatkan tempat peristirahatan yang layak ketika meninggal dunia. Kuburan mereka sering dibuat tanpa ada nisan sehingga tak semua orang tahu siapa yang menjalani istirahat panjang di bawah gundukan tanah. Bahkan, yang paling kontroversial, ada pula yang sampai saat ini justru belum dimakamkan. Mayatnya masih ada, diawetkan dan bisa dikunjungi orang.

Banyak alasan mengapa orang-orang terkenal itu tidak diberi makam yang layak. Salah satu faktor utamanya adalah kekhawatiran akan terciptanya sebuah tempat pemujaan bagi para pendukung atau simpatisan tokoh itu. Jika terjadi, ada kecemasan munculnya kembali paham yang pernah dibawa sang tokoh.

Bagi orang yang pernah menjadi orang paling dicari di dunia, pemakaman di laut untuk Osama itu benar-benar tempat peristirahatan yang tidak bisa diganggu. Jasad Osama bertemu nasib yang tidak menguntungkan. Jasad itu dijatuhkan ke laut dari sebuah kapal induk milik Amerika Serikat (AS).

Pejabat AS juga kesulitan untuk menekankan bahwa proses itu dilakukan sesuai ajaran Islam. Tapi, tujuan penguburan di laut itu jelas, yaitu memastikan tidak aka nada kuburan yang akan menjadi tempat ziarah bagi para pendukungnya dan alat rekrutmen bagi ekstremis.

Motif ini jelas seperti apa yang telah terjadi dalam sejarah. Rezim-rezim kemenangan, terutama ketika menghadapi gerakan ideologis dengan pemimpin karismatik, sering kali ingin sekali menghilangkan musuh-musuh yang mereka kalahkan dari titik reli, tempat dimana para simpatisan bisa berkumpul untuk memuliakan kematian mereka.

Mayat mantan pemimpin Nazi Adolf Hitler yang separuh dikremasi digali pasukan Uni Soviet dari tempat pemakaman awalnya di Berlin sebelum beberapa kali dipindah. Nasib akhirnya masih terselimuti dalam misteri. Beberapa laporan mengklaim tengkorak dan tulang rahangnya dibawa ke Moskow.

Berghof, rumah diktator itu di pegunungan Bavaria, dihancurkan pada awal 1950an oleh pemerintahan Jerman Barat, yang khawatir rumah itu akan menjadi titik pusat bagi neo-Nazi. Pemimpin lain Nazi dieksekusi di pengadilan Nuremberg oleh Sekutu dikremasi dan abu mereka ditaburkan di Sungai Conwentzbach, sebagai usaha menekan usaha apa pun yang dilakukan para simpatisan untuk mengenang mereka.

Pada akhir lain spektrum politik, mayat pemimpin revolusi Kuba Ernesto “Che” Guevara difoto asal-asalan oleh para musuh yang membunuhnya di Bolivia sebelum memakamkannya di sebuah makam tanpa nisan. Para musuhnya mungkin mengantisipasi pengultusan yang terinspirasi dari dia.

Nasib Osama menggemakan pendekatan kekaisaran Inggris pada militansi awal. Muhammad Ahmad, yang dikenal sebagai Mahdi, nisannya di Sudan dihancurkan Inggris untuk mencegah agar makam itu tidak menjadi poin reli bagi para pendukungnya.

Mahdi menikmati kesuksesan militer melawan tentara Inggris—termasuk pembantaian garnisun di Khartoum—sebelum sekarat karena tipes. Pengikutnya dilumpuhkan Inggris, nisannya dihancurkan dan tulang-tulangnya dibuang ke sungai.

Usaha yang disengaja untuk menghindari tempat ziarah bagi para musuh mencerminkan usaha rezim ideologi untuk membuat tempat ziarah secara sengaja.

Mayat Vladimir Lenin yang diawetkan, yang secara terang-terangan dipamerkan di mausoleum Lapangan Merah setelah dia meninggal, mungkin dimaksudkan untuk mewakili persistensi mitologi pendirian Uni Soviet. Tapi, ini berarti bahwa nasib jasad Joseph Stalin—yang awalnya dipamerkan bersama pendahulunya, diktator kelahiranya Georgia itu, tapi kemudian dialihkan saat masa pemerintahan Krushchev—menyimbolkan proses dimana reputasinya dihilangkan.

Profesor Michael Cox dari departemen hubungan internasional di London School of Economics menilai, nasib jasad Osama yang dikuburkan ke laut melampaui fakta-fakta dunia pascaserangan 9/11. Mitologi sebagian besar ideologi revolusioner sangat tergantung pada pemujaan para pahlawan yang dilumpuhkan, bahwa musuh mereka akan selalu berusaha menangkap daya tarik emosional seperti itu.

“Pemakaman itu bukan masalah Islam,” ujar Cox kepada BBC. “Ada titik yang lebih luas terkait peran martir dalam pertarungan—bukan hanya dalam istilah ikonografi, tapi juga bagaimana kemartiran digunakan sebagai sarana untuk meneruskan perjuangan itu. Martir membantu menciptakan pengikut baru.”

Malahan, tidak ada yang bisa mengungkapkan kekuatan tempat ziarah lebih dari peperang yang diusahakan setelah penduduk di sekitarnya meninggal dunia.

Mayat pemimpin fasis Italia Benito Mussolini digantung dengan pengait daging oleh para partisan yang menang, dikubur di makam tanpa nisan, digali pengikut setia fasis, diambil lagi pihak berwenang dan akhirnya kembali dikuburkan di sebuah ruangan bawah tanah beberapa tahun setelah kematiannya.

Kondisi yang sama juga terjadi di Valley of the Fallen yang terletak di dekat Madrid, Spanyol. Di lokasi itu, terdapat kuburan diktator Francisco Franco dan sebagian dibangun para tahanan Republikan. Valley of the Fallen memecah orang Spanyol selama perang sipil hingga saat ini.

Menurut ahli sejarah Laurence Rees yang menulis The Nazis: A Warning from History,  atas alasan seperti itulah, banyak tempat pemujaan para pemimpin politik dibuat untuk tujuan memberikan sedikit rasa abadi. Sedangkan diktatornya cenderung mendirikan toko besar yang menjadi pengingat permanen atas diri sendiri.

“Hitler tidak percaya pada kehidupan setelah kematian, tapi dia percaya dia akan punya kehidupan setelah kematian karena apa yang telah dia capai,” ujar Rees. “Dia membayangkan akan berada di sebuah sarkopagus raksasa—bahkan dalam kematian dia pun masih akan, secara fisik, ada di sana. Tapi kekalahan tidak bisa mewujudkan bayangannya itu.”

Tentu saja, sangat kurangnya memorial permanen atau, tentu saja, jasad, berarti teori konspirasi nasib Osama tumbuh subur nyaris begitu kematiannya diumumkan.  Kalau tidak, pemimpin al Qaeda itu adalah satu-satunya tokoh tewas yang kurangnya pemujaan memicu kecurigaan itu—spekulasi nasib Hitler, khususnya, menjadi salah satu sub genre konspirasional yang fleksibel.

Kolumnis Times David Aaronovitch, yang mendedikasikan diri untuk menulis kisah-kisah seperti itu dalam bukunya Voodoo Histories, yakin bahwa fenomena ini menguap dari tendensi mendalam manusia.

“Begitu saya mendengar berita itu, saya tahu, seyakin telur itu ya telur, akan ada teori konspirasi yang menyatakan itu bukan dia,” papar Aaronovitch. “Salah mengasumsi bahwa teori konspirasi terbentuk karena semuanya konkret seperti buktinya. Itu mengenai hasrat untuk mencari cerita yang berbeda.”

Menurut Aaronovitch, kebutuhan untuk menandai anggota salah satu suku yang meninggal mendarah daging secara mendalam. Sebaliknya, itu berarti, tidak menggelar ritual semacam itu terhadap musuh mencerminkan ketikatahuan gerak hati emosional.

“Anda punya banyak psikologis mendalam yang terlibat dalam ritual pemakaman,” papar dia. “Ada semacam kepuasan yang saya rasa tidak dikenali orang Amerika ketika mereka bilang,’Kami menceburkan Osama bin Laden ke laut’.”

Lokasi tepat makam Osama mungkin tak akan pernah diketahui dan fakta ini memberikan ide kepentingannya dalam hidup dan mati.

Dimana Kuburnya?

Tak semua tokoh ternama di dunia mendapatkan pemakaman yang layak ketika mereka sudah meninggal. Beberapa di antaranya bahkan tak diketahui keberadaan tempat peristirahatan terakhirnya

–      Kaisar terakhir Ethiopia Haile Selassie

Dimakamkan di sebuah makam tak bernisan setelah digulingkan, jasadnya ditemukan pada 1992 di bawah sebuah toilet di Istana

–      Mantan Presiden Filipina Ferdinand Marcos

Sampai saat ini, mayat Marcos masih terbaring di sebuah peti kaca sementara keluarganya terus mengampanyekan pemakaman negara

–      Romanov

Keluarga Tsar Nicolas II dari Rusia ini ditembak mati dan dikubur di sebuah lubang di hutan oleh Bolsheviks setelah revolusi Oktober 1917, pada 1998, jasad-jasad itu dikuburkan kembali di katedral St Petersburg

–      Mantan Pemimpin Cile Augusto Pinochet

Setelah meninggal, dia dimakamkan dengan pemakaman militer pada 2006 tapi kemudian dikremasi karena keluarganya tak mau ada kuburan yang bisa menjadi titik demonstrasi

–      Benito Mussolini

Setelah meninggal pada 1945, mayatnya dikubur di sebuah makam tak bernisan, setahun kemudian, mayatnya digali dan dicuri, mayatnya kemudian dikuburkan di sebuah ruangan bawah tanah

–      Adolf Hitler

Hitler meninggal pada April 1945, mayatnya secara diam-diam dimakamkan di sebuah pemakaman di dekat Rathenow di Brandenburg, namun, pada 1970, jasadnya dikremasi dan abunya ditaburkan di Sungai Elbe.

Sumber: BBC

Printed version available on Sunday, May 8, 2011
Photo Courtesy: REUTERS/Stringer/Files

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s