Article: Khadafi, Osama Berikut?

BURONAN utama Amerika Serikat (AS), Osama bin Laden, sudah tewas. Pertanyaan berikut pun muncul, siapa target penangkapan Paman Sam selanjutnya? Ayman al-Zawahiri—pengganti Osama di Al Qaeda?

Zawahiri tentu saja adalah target nyata AS saat ini. Sebagai pengganti buronan nomor satu di dunia dan ketua baru jaringan terorisme dunia, dokter asal Mesir itu kini mengisi peringkat teratas buronan dunia. Tapi, Washington tampaknya tak puas jika hanya menempatkan satu orang saja dalam buruan teratas mereka. Paman Sam butuh orang lain untuk turut diburu. Lantas siapakah “kandidatnya”?

Tak sulit menjawab pertanyaan itu. Perkembangan dunia yang terjadi belakangan ini membuktikan, AS sedang berusaha “membuat” buruan baru dalam misi mereka. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah pemimpin Libya Muammar Khadafi.

Bukan sebuah kejutan memang jika pada akhirnya Amerika membidik Khadafi. Perlakuan Paman Sam terhadap pemimpin Libya itu boleh dibilang berbeda dengan apa yang mereka perbuat terhadap para pemimpin negara Arab selama pecah revolusi sejak Januari hingga saat ini.

Dalam tulisannya di Asia Times Online, Pepe Escobar memaparkan, apa yang terjadi di Libya saat ini adalah sebuah misi neo kolonialisme yang menggunakan bulu domba bernama perang kemanusiaan. Mengapa bisa begitu?

Osama bin Laden tewas dalam penyergapan yang dilakukan pasukan elit Angkatan Laut AS atau Navy Seals atas perintah langsung Presiden Barack Obama. Sebagaimana luas diketahui, penyergapan itu dilakukan di Abbottabad, Pakistan. Ironisnya, pemerintah Pakistan mengaku tak tahu menahu tentang serangan itu. Boleh jadi, penyergapan itu sebenarnya telah melanggar kedaulatan Pakistan.

Mundur ke belakang, perang yang dilakuan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terhadap Libya juga memunculkan dilema. Nyatanya, opini publik Barat terbentuk dengan memandang bahwa serangan militer ke negara berdaulat itu tidak melanggar piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Inilah yang oleh Escobar—penulis buku Obama does Globalistan—disebut sebagai serigala—neo-kolonialisme—berbulu domba—“perang kemanusiaan.”

Inti dari permasalahan ini adalah konsep undang-undang internasional—yang diadopsi semua negara “beradab”, dan juga apa yang itu perang. Dan, bagi elit berkuasa Barat, inilah detil itu: tidak ada debat tingkat tinggi atas implikasi perang NATO—yang dibenarkan PBB—yang tujuan akhirnya—dan selalu begitu—adalah mengubah rezim.

Operasi kotor di negara utara Afrika itu bahkan terungkap lebih sulit ketika terbukti bahwa perang di Libya awalnya didasarkan pada kepentingan Prancis yang meragukan; bahwa Arab Saudi memberikan suara palsu Liga Arab untuk AS karena kerajaan itu ingin menyingkirkan Muammar Khadafi dan  pada saat yang sama, punya tangan bebas dalam menghadapi unjuk rasa pro-demokrasi di Bahrain; bahwa Libya menawarkan kemungkinan sempurna bagi Africom milik Pentagon untuk mendirikan markas di Afrikal; bahwa sekumpulan “pemberontak” tak bermoral menunggangi protes yang sah, dengan para pembangkang Khadafi, militan terkait Al Qaeda dan para pengasing seperti aset Badan Intelijen AS Jenderal Khalifa Hifter, yang tinggal selama hampir 20 tahun di Virginia, mengambil alih.

Perang itu bahkan menjadi lebih parah ketika ada yang tahu bahwa pada 19 Maret elit keuangan Washingon/London/Paris mewenangkan Bank Sentral Benghazi untuk memiliki kebijakan moneter sendiri—dengan dikte barat, tak seperti bank sentra pemerintah dan sepenuhnya independen, bank nasional Libya di Tripoli. Khadafi ingin mengenyahkan dolar dan euro dan menggantinya menjadi dinar emas sebagai alat tukar umum di Afrika—dan banyak pemerintah yang sudah ikut.

Perang di Libya secara global dilakukan di bawah slogan R2P—Responsibility to Protect/Tanggung Jawab untuk Melindungi—sebuah konsep penjajahan kemanusiaan baru yang di Washington yang diacung-acungkan dengan kegembiraan oleh tiga wanita—yang disebut Escobar sebagai pemandu sorak Amazon—yaitu Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, duta besar AS untuk PBB Susan Rice dan penasihat presiden Samantha Power.

“Padang besar dunia berkembang—“komunitas internasional” yang sesungguhnya, bukanlah fiksi dalam lembaran media mainstream Barat—melihatnya seperti apa yang terlihat, yaitu akhir konsep kedaulatan nasional, dengan secara cerdas mengaburkan Pasal 2, Ayat 1, Piagam PBB mengenai prinsip persamaan kedaulatan negara,” papar Escobar. “Mereka melihat bahwa “pemutus” R2P adalah Washington dan sekumpulan ibu kota Eropa. Mereka melihat Libya ditampar bom NATO—tapi bukan Bahrain, Yaman atau Suriah. Mereka melihat para pemutus itu tidak melakukan usaha apa-apa untuk menegosiasikan gencatan senjata di Libya—mengabaikan rencana yang diajukan Turki dan Uni Afrika.”

Kondisi ini tentu tidak luput dari pengawasan pemain-pemain kekuatan seperti Rusia dan China. Moskow dan Beijing tidak begitu saja melewatkan pandangan bahwa R2P bisa dilakukan pada kasus pemberontakan di Tibet dan Xinjiang, langkah berikutnya bisa jadi adalah tentara NATO masuk wilayah China. Pikiran ini sama dengan apa yang dikhawatirkan terjadi di Chechnya—dengan tambahan faktor hipokritik Barat bahwa selama bertahun-tahun pemberontak Chechnya dipersenjatai NATO via jaringan terkait Al Qaeda di Kaukasus/Asia Tengah.

Tak hanya Rusia dan China. Para pemain di Amerika Selatan juga tidak menutup mata jika ada kemungkinan bahwa R2P diberlakukan untuk intervensi “kemanusiaan” NATO di Venezuela atau Bolivia.

Jadi, inilah arti baru “undang-undang internasional”. Menurut Escobar, pengertian itu adalah Washington—melalui Africom atau NATO—mengintervensi, dengan atau tanpa resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB, dengan nama R2P, dan semua orang memilih bungkam saat melihat kerusakan besar yang ditimbulkannya. “Pada pemboman sebuah rezim sementara menolak tujuan perubahan rezim dan untuk tidak menolong kapal-kapal yang penuh dimuatan pengungsi terdampar di Mediterania,” lanjut Escobar.

Niat AS terhadap Khadafi memang nyata terlihat. Lihat saja bagaimana Washington berusaha keras menurunkan Khadafi, sementara keluarga al-Khalifa di Bahrain, Ali Abdullah Saleh di Yaman dan Bashar al-Assad di Suriah masih bisa mengendalikan demonstrasi di negaranya tanpa ada intervensi Paman Sam. Mengapa bisa begitu?

Sederhana saja. Seseorang bukanlah diktator jahat kalau dia adalah salah satu bajingan “mereka” (baca: Amerika), makanya, mainkan peraturan “mereka”. Nasib para pemimpin independen macam Khadafi adalah menjadi roti panggang. Yang membuat orang lain bisa lolos adalah jika negaranya sudah punya markas militer AS, sebagaimana dengan al-Khalifa di Bahrain dan Pasukan Kelima AS yang ditempatkan di emirat itu.

Kalau saja al-Khalifa bukan “pesuruh” AS dan tidak ada markas militer di kerajaan itu, Washington tentu saja tak akan punya masalah ikut campur dengan dalih menegakkan perdamaian ketika terjadi unjuk rasa pro-demokrasi yang didominasi kaum Syiah menentang tiran Sunni yang menyebabkan House of Saud menekan rakyatnya.

Lalu ada aspek legal yang muncul. Bayangkan menyeret Khadafi ke persidangan. Nah, pengadilan macam mana yang akan dipakai untuk mengadilinya? Pengadilan perang atau pengadilan sipil? Pengadilan kanguru—ala Saddam Hussein—atau menawarinya semuanya sarana “beradab” untuk membela diri? Dan bagaimana mengadili kasus kejahatan terhadap kemanusiaan dengan alasan yang masih dipertanyakan? Bagaimana menggunakan testimoni yang didapatkan dengan penyiksaan, ups, “interogasi yang diperbarui”? Dan seberapa lama? Bertahun-tahun? Berapa saksi? Ribuan?

Mungkin saja, AS sudah memikirkan masak-masak segala macam aspek yang akan berujung pada kerumitan itu kala membidik Osama. Jadi, tanpa banyak omong, begitu mendapatkan Osama di rumah mewahnya di Abbottabad, Pakistan, pasukan Navy Seals langsung memberondongnya, tepat di kepala mendiang bos Al Qaeda itu.

Dengan pertimbangan itu, Washington bisa berpikir bahwa lebih gampang menyelesaikan masalah dengan Khadafi dengan sebuah rudal Tomahawk—atau tembakan di kepala—dan menyebutnya “keadilan.”

Belakangan, NATO memang meningkatkan serangan di Tripoli. Sasarannya, tak lain adalah kompleks yang dihuni Khadafi. Dua hari lalu, setelah muncul kali pertama sejak kematian anaknya, Saif al-Arab, NATO memberondong kediaman Khadafi. Pemimpin Libya itu dikabarkan menderita luka-luka. Tapi, BBC melaporkan, Khadafi dalam kondisi baik.

“Kepada para pengecut, saya katakan, saya tinggal di tempat yang tidak bisa kalian capai dan kalian tak bisa membunuh saya di sana, karena saya hidup di hati jutaan orang,” tegas Khadafi dikutip BBC. “Kehidupan yang kekal itu bagi para martir dan kematian, keburukan dan kehinaan adalah untuk agen-agen pengkhianat dan para majikan mereka yang pengecut.”

Kemungkinan membunuh Khadafi itu memang tak dibantah Kepala Staf Pertahanan Inggris Jenderal Sir David Richards. Menurut dia, kematian Osama seharusnya memberikan “dampak psikologis” bagi pemimpin Libya itu dan diktator lainnya. Richards menyebut pembunuhan Osama itu sangat positif dalam konteks perubahan politik di Timur Tengah.

“Insiden itu akan mengingatkan orang dimana pun merkea suatu hari perbuatan mereka akan dibalas,” ujar Richards, dikutip Telegraph. “Secara psikologis, tewasnya Osama itu sangat penting dalam konteks Libya dan negara lain yang sedang mengalami krisis di Timur Tengah. Jadi, saya kira, ini adalah dampak psikologis, bukan sekadar dampak jangka pendek.”

NATO memang membantah menarget Khadafi. Tapi, Menteri Pertahanan Inggris Liam Fox memaparkan, sekutu akan melakukan serangan di Tripoli untuk meningkatkan tekanan psikologi terhadap Khadafi.

Printed version available on Sunday, May 15, 2011
Photo Courtesy: REUTERS/Huseyin Dogan/Files

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s