Article: Rain, Penakluk Amerika dari Negeri Ginseng

Rain (hujan) selalu turun dari langit ke bumi untuk menyejukkan tanah-tanah yang kekeringan. Hujan ini pun turun untuk memberikan kesejukan kepada orang-orang di bumi. Tapi, dia tidak datang dari langit. Rain datang dari Korea Selatan (Korsel) untuk menawarkan penyejuk dahaga di dunia hiburan.

Sampai saat ini, tak banyak artis dari Asia yang berhasil berjaya di daratan Amerika. Kalau pun ada, masih dalam hitungan jari dan keberhasilan mereka harus melalui perjuangan selama bertahun-tahun. Tapi, tidak begitu dengan Rain. Pop star dan aktor asal Korsel ini tidak perlu waktu bertahun-tahun untuk menggapai popularitas di negeri Paman Sam.

Pria bernama asli Jeong Ji-hoon ini menancapkan kakinya sebagai salah satu artis yang pantas diperhitungkan di kancah internasional ketika usianya masih 23 tahun. Sebagai perbandingan, Jacky Chan baru mendapat pengakuan “resmi” Hollywood ketika umurnya sudah di atas kepala tiga atau sekitar 10 tahun setelah dia malang melintang di dunia perfilman Asia. 

Namun, Rain, bocah dari Seoul ini, tidak butuh puluhan tahun. Anak muda kelahiran 25 Juni 1982 itu hanya butuh tak kurang dari lima tahun untuk menaklukkan dunia. Pada 2006 lalu, untuk kali pertama, pria yang dijuluki sebagai Justin Timberlake-nya Asia ini masuk sebagai salah satu orang yang masuk di 100 Most Influential People Who Shape Our World majalah TIME.

Setahun berikutnya, dia nangkring di posisi teratas poling online majalah TIME untuk daftar yang sama padahal dia tidak berada di daftar sebenarnya poling majalah itu. Di tahun yang sama, dia juga masuk daftar Most Beautiful People versi majalah People. Pada 2010, dia dianugerahi Biggest Badass Award di ajang MTV Movie Awards atas penampilannya di film Ninja Assassin.

Tahun ini, Rain kembali menorehkan prestasi. Pada poling online 100 Most Influential People Who Shape Our World majalah TIME, dia kembali nangkring di posisi puncak. Duplikat Usher asal Korsel itu bahkan mengungguli ikon pop saat ini, Lady Gaga yang harus puas duduk di posisi 12. Di belakang Rain duduk manis aktor dan penyanyi asal Taiwan, Jay Chou.

Dalam poling itu, Rain mendapatkan 406.252 suara. Tampaknya industri hiburan Amerika harus waspada terhadap perkembangan aktor dan penyanyi asal Asia yang tampaknya telah melebarkan pengaruhnya ke dunia hiburan global. Rain adalah salah satu kekuatan itu.

Rain tidak mendapatkan prestasinya itu dengan instan. Meski cepat dikenal di Amerika, tak berarti pria yang sudah piawai menari sejak usia 6 tahun itu tidak berjuang keras dan menghadapi hambatan. Dia bahkan pernah ditolak beberapa audisi menyanyi karena tampangnya dianggap terlalu jelek. Sakit hati? Mungkin iya. Siapa yang tidak merasa sakit kalau tidak diluluskan dalam audisi hanya gara-gara punya tampang jelek. Dan “ejekan” semacam ini sering membuat yang mendengarnya patah arang. Sama halnya dengan Rain.

Akibat terlalu sering ditolak audisi gara-gara bertampang jelek, dia nyaris putus asa. Rain sudah tidak terlalu ingin mewujudkan cita-citanya menjadi penyanyi. Rasanya, dia lebih memupus impiannya itu. Tapi, hati kecilnya menolak.

Di lubuk sanubarinya, dia masih tetap ingin mengejar impiannya itu, demi membahagiakan ibu yang dia cintai. Di tengah deraan ejekan bahwa wajahnya yang buruk rupa itu tidak akan laku dijual, Rain punya keyakinan lain. Dia tahu suatu hari nanti dia akan jadi bintang besar.

“Ketika ibu saya meninggal, saya tersadar kalau suatu hari nanti, saya akan jadi bintang top di dunia untuk menghormati ibu saya,” papar Rain pada 2006 lalu.

Ketika usianya menginjak 17 tahun, dengan sekuat tenaga, Rain membangkitkan semangat dalam dirinya untuk kembali ikut audisi. Dia meletupkan keyakinan pada dirinya, yang penting bukan penampilan wajah yang ditonjolkan. Lebih dari itu, dia harus memperlihatkan kepada semua orang bahwa dia punya bakat dan kemampuan yang bisa dibanggakan.

Keyakinannya itu akhirnya membuahkan hasil yang manis padanya. Dalam sebuah audisi, dia bertemu Park Ji Yoon, seorang bintang musik. Park melihat ada bakat besar dalam diri bocah itu. Ketertarikannya pada Rain akhirnya dia wujudkan dengan mengajaknya rekaman.

Rain akhirnya mampu merilis satu album, Bad Guys (2002). Lewat rekaman pertamanya inilah, bocah ABG itu benar-benar tampil menunjukkan bahwa dia telah mengalami metamorfosis yang sempurna. Dia yang dulu ditolak audisi karena wajahnya yang jelek, saat itu muncul bak kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya. Rain memesona banyak orang. Album itu mendongkrak namanya ke jajaran penyanyi elit di Korsel.

Rain pantas berterima kasih pada suaranya yang enak didengar plus didukung dengan wajah imut, penampilan funky plus kepiawaiannya dalam menari yang membantunya dengan mudah memasuki blantika musik Korsel saat itu.

Kemunculan Rain bak roket yang melesat dengan cepat dari landasannya. Dialah pencetus pertama jenis musik Korean Wave. Di tangan anak muda ini, musik Korea yang disebut K-Pop dicari-cari di seantero dunia. Bad Guys tak hanya sukses di Korsel. Album itu juga melanglang buana hingga ke China dan Jepang.

Produser layar kaca dan layar lebar pun mulai meliriknya. Debut akting Rain dimulai pada 2004 lewat sinetron Full House. Tak disangka, debut pertama pria yang sering disapa Bi di Korsel itu sukses besar.

Full House juga menjaring prestasi di luar negeri. Sinetron di begitu digemari di Asia, terutama di Indonesia, Thailand dan Filipina. Dari debutnya di layar kaca itu, nama Rain “terjual” hingga ke Asia Tenggara. Dan, pada 2006, Full House ditayangkan di jaringan televisi kabel di Amerika Serikat. Ini tentu akan terus mendongkrak popularitas Rain di dunia hiburan internasional.

Di negaranya, Rain dianggap sebagai personifikasi hallyu, yang dilihat sebagai alternatif regional bermutu tinggi terhadap dominasi budaya Amerika di negeri Ginseng ini. Tapi, dengan rendah hati, Rain menampik anggapan dia sebagai ikon pop Korsel. Dia justru mengaku terinspirasi musik pop Amerika dengan kekagumannya terhadap Michael Jackson.

Meski menampik julukan ikon pop, Rain telah berhasil membuat musik yang dia mainkan lebih sensitif dan menyentuh ketimbang R&B Amerika. Penampilannya di atas panggung juga lebih menarik karena dia mampu memadukan tarian klasik dengan seni bela diri.

Kesuksesan di debut awal itu diikuti dengan keberhasilan album kedua Rain, yang diberi judul seperti namanya, Rain. Lewat rekaman inilah eksistensi dirinya di kancah hiburan nasional dan regional semakin tertancap dengan kuat.

Namun, Rain bukan orang yang gampang puas dengan satu sukses saja. Baginya, jika dia bisa sukses di Asia, maka dia harus berani mengambil langkah yang lebih lebar untuk menuai keberhasilan yang lebih besar.

Yang ada di benaknya adalah menaklukkan Amerika.

Rain tidak main-main dengan impiannya itu. Dia pun berjuang keras untuk mewujudkannya. Dia terus berlatih memperbaiki vokal dan tariannya. Dan, pada 2006, keinginannya itu akhirnya tercapai.

Album ketiganya, It’s Raining, dicoba dilempar di pasar Amerika. Hasilnya? Jangan tanyakan. Di Negeri Paman Sam itu, album ini menuai sukses besar bahkan Rain diundang untuk menggelar konsernya di Madison Square Garden, New York, tempat ini idaman penyanyi kondang untuk menghelat pertunjukannya.

Impian yang jadi kenyataan bagi Rain. Dia mengaku sudah lama memimpikan menggelar konser di tempat itu karena ketika masih kecil sering menirukan gaya Michael Jackson.

“Ini adalah kehormatan besar bagi saya untuk tampil di sini. Saya sudah mempersiapkan diri menghadapi kegagalan di sini. Kalau musik saya tidak disukai warga Amerika, maka saya akan bekerja dengan sangat keras untuk memperbaiki semuanya dan berharap penampilan saya berikutnya akan memuaskan mereka,” bebernya.

Rain harus bersyukur. Pagelaran yang dihelat selama dua hari pada Februari 2006 dengan titel Rainy Day in New York itu sukses besar. Tiketnya sold out dan nama Rain muncul di halaman depan New York Times yang juga membuat review tentang pertunjukan itu. Menurut New York Times, Rain adalah pendobrak dinding pemisah, pembangun jembatan budaya dan menjadi pop star Asia pertama yang sukses di Amerika.

Pernyataan itu tak berlebihan. Sebab, Rain juga menegaskan saat ini fokusnya adalah mendulang sukses di Amerika. “Amerika adalah pasar musik yang dominan. Saya ingin sekali melihat ada orang Asia yang sukses di sana. Saya ingin orang Asia itu adalah saya. Itulah mengapa saya belajar bahasa Inggris, membaca tentang budaya mereka dan berlatih tiap hari untuk terus memperbaiki diri saya,” terangnya.

Pemuda ini mungkin bisa tersenyum puas. Dia telah menunjukkan kepada orang-orang yang dulu menolaknya karena wajahnya yang dinilai terlalu jelek bahwa dia punya daya tarik lain, daya jual lain yang lebih menjanjikan, yaitu semangat membara tanpa ada kata patah arang.

Printed version of this article was published on 2006 and the revised version was published on Wednesday, April 20, 2011, this article is rearranged version
Photo courtesy: Wikipedia

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s