Article: Diplomasi Kosmonot Rusia

INDONESIA memang belum membuktikan prestasinya dalam jelajah antariksa. Namun, impian menaklukkan antariksa sudah ada sejak Presiden Soekarno berkuasa. Bahkan, penerbangan pertama manusia ke antariksa yang dilakukan kosmonot Rusia Yuri Gagarin memberikan kesan mendalam bagi presiden pertama Indonesia itu. Penerbangan selama 108 menit itu juga menjadi tonggak hubungan awal Indonesia dan Rusia, yang saat itu masih bernama Uni Soviet.

Dua bulan setelah Gagarin mengantariksa, Bung Karno—demikian sapaan akrab Presiden Soekarno—terbang ke Moskow. Bukan hanya sebuah kunjungan kenegaraan biasa saja, namun, Bung Karno juga merayakan hari ulang tahunnya yang ke-60 bersama teman-temannya di Rusia dan juga dihadiri tamu istimewa, Gagarin. Bahkan boleh dibilang jika penerbangan Gagarin itu juga menjadi salah satu tonggak hubungan persahabatan awal yang dijalin Indonesia dengan Uni Soviet kala itu.

Tak tanggung-tanggung, dalam jumpa pertama itu, Bung Karno menghadiahi Gagarin berupa penghargaan Bintang Adipradana. Penghargaan  ini juga diberikan kepada kepala negara Uni Soviet, Ketua Leonid Brezhnev.

Profesor Alexey Drugov, cendekiawan kajian oriental, doktor ilmu politik dan salah satu pakar sejarah Indonesia asal Rusia memaparkan, pada awal hubungan Indonesia—Rusia, topik terkait antariksa adalah bahasan utama.  Pada September 1962, Kosmonot kedua Rusia, Gherman Titov bahkan menyempatkan diri berkunjung ke Indonesia. “Kunjungan itu adalah peristiwa penting karena saat itu hanya ada dua kosmonot di planet itu, Gagarin dan Titov. Kunjungan itu adalah tugas menantang. Tapi, kunjungan Gherman Titov ke Indonesia adalah atas undangan pribadi Presiden Soekarno,” papar Drugov, sebagaimana dikutip RIA Novosti.

Setahun kemudian, pada Januari 1963, kosmonot ketiga Soviet, Andrian Nikolaev juga menapakkan kakinya di tanah Indonesia. Pada November tahun itu, dia kembali ke Indonesia bersama istrinya, Valentina Tereshkova—yang menjadi wanita pertama yang terbang ke antariksa pada Juni 1963—dan  temannya, Valery Bykovsky—kosmonot yang mengantariksa pada 1963—yang juga mengajak istrinya. Dalam kunjungan tersebut, Drugov menjadi penerjemah kedua pasangan ini.

Pada saat itu, Soviet tengah aktif memberikan bantuan—termasuk militer –untuk Indonesia setelah penyerahan Irian Barat (sekarang Papua) dari Belanda ke Indonesia dan periode persenjataan kembali Angkatan Bersenjata Indonesia (TNI).

Di tengah perkembangan itu, trio kosmonot Soviet itu tiba di Indonesia. Drugov sangat mengingat peristiwa itu. Saat itu, Tereskhova masih berusia 26 tahun, sama seperti Drugov. Bykovsky berusia 29 dan Nikolayev berusia 34 tahun. Drugov mendeskripsikan keempat orang tamunya itu sebagai orang-orang yang ramah dan santai meksipun mengenakan pakaian resmi. Mereka bahkan tak malu untuk bercerita tentang perjalanan mereka.

Penerbangan ke Indonesia itu tidak gampang bagi Tereskhova. Wanita itu sedang hamil dan diperkirakan segera melahirkan putri pertamanya, yang diberi nama Alyona, pada tahun itu. Namun, dia beruntung karena suaminya, Nikolayev adalah orang berkepala dingin dan bisa menenangkan istrinya itu. Kepada Drugov, Nikolayev bertutur bahwa dia nyaris mati ketika pesawat yang ditumpanginya meledak. Namun, pengalaman itu justru memberikan penghormatan baginya. Pemerintah menganugerahkan Order of Red Star bagi dia.

Selama di Indonesia, keempat tamu istimewa ini juga menghadiri berbagai pertemuan yang diorganisasi di level berbeda. Mereka adalah tamu pribadi Presiden Soekarno, yang menerima mereka di kediamannya di Bogor. Bung Karno juga mengundang mereka ke acara resepsi besar di stadion Senayan—yang dibangun mirip Stadion Luzhniki di Rusia, dibangun kontraktor Soviet dan dibuka pada 1962. Saat itu, Bung Karno memperkenalkan para tamunya dan berpidato mengenai persahabatan Indonesia—Rusia dan tentang masa depan Indonesia. “Acara itu benar-benar spektakuler dan dihadiri banyak orang. Sebagian datang bersama anak mereka yang masih bayi. Soekarno terkenal dengan pidatoya yang terkadang pribadi dan sangat sensitive di hadapan para audience yang mendemonstrasikan sikap paternal terhadap rakyatnya,” kenang Drugov. “Ketiga kosmonot Soviet itu juga berpidato pada acara itu dan diterima dengan penghormatan.”

Dalam pandangan Drugov, orang Indonesia adalah orang-orang yang sering penuh gairah dan mudah terkena bujukan. Saat itu, puluhan ribu warga turun ke jalan untuk menyambut para pionir antariksa Rusia itu, mereka bahkan menepuk bahu ketiga orang itu ketika melintas dengan mobil terbuka. Tentu saja, itu adalah rasa penasaran yang murni, dalam pemahaman yang baik—kesempatan langkah melihat kosmonot asli dengan mata kepala sendiri—tapi, pada saat yang sama itu adalah pemahaman fkata bahwa itu adalah tanda persahabatan dari Uni Soviet yang telah mengirimkan wakil terbaiknya—dua putra dan seorang putri—untuk berkomunikasi dengan sahabat Indonesia mereka.

Selain ke Jakarta, Drugov juga mendampingi ketiga kosmonot itu saat berkunjung ke Palembang, Surabaya, Solo dan Bandung. Di Bandung, rombongan ini terpukau oleh penampilan penyanyi lokal yang melantunkan lagu romantis terkenal Rusia, Black Eyes, dengan versi bahasa Sunda.

“Bagi saya, mereka benar-benar bintang, tapi saya kaget dengan hilangnya atribut kebintangan mereka,” ujar Drugov.

Suatu hari di sela kunjungannya ke Indonesia, Nikolayev mendatanginya dan bertanya apakah dia bisa mengatur kunjungan ke Kebun Binatang (Bonbin) di Surabaya. Nikolayev adalah seorang pencinta hewan. Drugov segera melaporkan permintaan itu ke Duta Besar (Dubes) Soviet kala itu Nikolay Mikhailov yang mendampingi delegasi itu. Dubes itu lalu menghubungi pihak Indonesia dan kunjungan itu pun diatur dengan segera. Ketika tiba di Bonbin itu, mereka terkesan dengan adanya spanduk penyambutan pada kosmonot itu. Namun, ternyata, Bykovsky tak menyukai komodo, walaupun dia sangat terkesan dengan Bonbin itu. Saat berada di Bonbin, ketiga orang itu bahkan bertingkah seperti anak-anak yang gembira bisa melihat-lihat hewan kesayangannya. “Mereka benar-benar melakukan tugas mereka dengan sangat baik—tapi penyakit “bintang” tak menjangkitin mereka,” tutur Drugov. “Saya kemudian bertemu mereka dalam kondisi lain, tapi sikap mereka bahkan tak berubah.”

Marsekal Udara Omar Dani, Komandan Angkatan Udara Indonesia kala itu, juga mengatur pertemuan para kosmonot itu dengan pilot jet tempur Indonesia. Setelah kunjungan resmi itu, ketiga kosmonot kemudian berlibir ke Bali, tanpa Drugov.

Secara keseluruhan, dalam pandangan Drugov, kunjungan delegasi kosmonot Soviet ke Indonesia itu diilhami atmosfir pertemanan, pertemuan-pertemuan menarik dan komunikasi langsung dengan warga lokal.

“Saya yakin kalau bukan karena perubahan politik di Indonesia sejak 1965 hingga akhir 1990an dan mendinginnya hubungan negara kita selama era Orde Baru, maka antariksawan Indonesia mungkin telah dipersiapkan dan mampu menjelakah antariksa bersama salah satu misi antariksa Soviet/Rusia. Saya kira, cepat atau lambat hal itu akan terealisasi,” pungkas Drugov.

Printed version with exclusive photos available on Sunday, April 17, 2011,
Photo courtesy: RIA NOVOSTI

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s