News: Elizabeth Taylor (Part 1)

DUNIA kembali kehilangan satu legenda hidupnya. Kemarin, aktris kawakan Hollywood Elizabeth Taylor, 79, mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Cedars-Sinai di Los Angeles.

Pemenang dua kali Piala Oscar itu memiliki sejarah panjang masalah kesehatan dan sudah enam dirawat di rumah sakit karena gejala gagal jantung. Menurut ABC News, meski pun mengalami serangkaian masalah kesehatan, kondisinya stabil dan diharapkan dia akan pulang.

“Aktris legendaris, pengusaha dan aktivis yang tak kenal takut Elizabeth Taylor meninggal dengan tenang hari ini (kemarin) di Rumah Sakit Cedars-Sinai di Los Angeles,” ungkap pernyataan publisisnya, Sally Morrison, yang dikutip AFP. “Saat mengembuskan nafas terakhir, dia didampingi putra putrinya, Michael Wilding, Christopher Wilding, Liza Todd, and Maria Burton.”

Selain meninggalkan putra dan putrinya, Liz—begitu dia akrab disapa—juga meninggalkan 10 cucu dan 4 cicit.

Liz, yang pertama kali mengguncang dunia pada usia 12 tahun kala membintangi National Velvet (1944), sudah jarang muncul di hadapan publik beberapa tahun belakangan. Dia mengaku menderita gagal jantung dan skoliosis.

Dalam wawancara dengan W Magazine, Liz mengaku mengalami kesulitan bernafas dan berjalan sehingga kemana-mana harus ditemani oleh seorang suster. Meskipun begitu, Liz mengatakan dia masih bisa melakukan kegiatan apapun.

“Masih banyak yang bisa saya lakukan. Saya tidak bisa cuma duduk saja dan menjadi pengatur. Saya bisa kemana-mana dengan kursi roda. Ya, saya masih bisa melakukan banyak hal,” tuturnya.

Bintang dalam film seperti Cleopatra, Butterfield 8 dan Who’s Afraid of Virginia Woolf? itu mungkin lebih dikenal karena kehidupan cintanya yang eksotis. Tak jarang, dia selalu muncul di halaman depan surat kabar selama berpuluh-puluh tahun karena skandal asmaranya.

Selama hidupnya, Liz sudah delapan kali menikah dengan tujuh pria. Yang paling menghebohkan adalah hubungannya dengan aktor asal Wales Richard Burton yang dia dinikahi dan dicerai dua kali.

Jauh dari kehidupan pribadinya yang selalu mengundang kontroversi dan cibiran itu, Liz membuktikan dirinya layak menjadi seorang bintang tenar.

Selama karirnya, dua kali Liz menerima Oscar untuk kategori Best Actress in a Leading Role dalam film Butterfield (1960) dan untuk kategori sama pada film Who’s Afraid of Virginia Woolf? (1966). Dia juga memenangkan Bafta untuk kategori pemeran utama wanita terbaik dalam film itu.

Memenangkan penghargaan bukanlah hal aneh bagi Liz. Sebelum mendapatkan penghargaan itu, dia sudah menjadi langganan nominasi untuk Oscar, diantaranya untuk film Raintree County (1957), Cat in a Hot Tin Roof (1958) dan Suddenly, Last Summer (1959).

Dia menjadi bintang film dengan bayaran termahal ketika dia menerima USD 1 juta dari 20th Century Fox untuk film Cleopatra. Film ini langsung mengundang kontroversi ketika Liz terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya Richard Burton. Sosok Burton tampaknya tak akan hilang dari benaknya. “Memang tak bisa dihindari kalau kami bisa menikah lagi, tapi tidak untuk dibahas,” ujarnya.

Burton dan Taylor menikah pada Maret 1964, kemudian bercerai pada Juni 1974. Tapi, pada Oktober tahun itu, merkea menikah lagi dan bercerai lagi pada Agustus 1976. Sebelum meninggal, Burton berujar,”Kami tidak pernah berpisah—dan tak akan pernah.”

Ketika film itu dibuat di London, Liz jatuh sakit. Dia sampai membutuhkan tracheotomy darurat untuk menyelamatkan nyawanya. Liz sembuh dan beberapa pekan kemudian, dia muncul di upacara Oscar dimana dia diumumkan sebagai salah satu pemenangnya untuk film Butterfield 8.

Dengan bekas jahitan yang masih terlihat jelas di lehernya, Liz maju sendiri ke panggung untuk menerima pialanya.

Film Cleopatra dirilis pada 1963. Sayangnya, tidak sukses di box office. Liz kemudian mengatakan film itu adalah bagian hiburan yang teraneh yang pernah dibuat.

Jebloknya Cleopatra, tak membuat Liz patah semangat. Dia terus memperlihatkan performa terbaiknya. Sampai dia memerankan seorang wanita yang gemuk dan alkoholik dalam film Who’s Afraid of Virgina Woolf?—yang membuahkan satu Oscar untuknya.

Liz kemudian menyabet satu gelar untuk Best Actress di Berlin Film Festival untuk perannya dalam Hammersmith Is Out pada 1972.

Liz yang sudah membintangi puluhan film layar lebar itu juga terlibat di beberapa produksi film untuk televisi, termasuk Malice in Wonderland (1985) dan Poker Alice (1987).

Dia juga mengisi suara untuk karakter kartun Maggie Simpson (adiknya Bart Simpson) pada 1992 untuk satu episode The Simpsons saat Maggie pertama kali bisa bicara.

Pada tahun yang sama, dia dianugerahi Jean Hersholt Humanitarian Award di upacara penyerahan Oscar dan membawa pulang American Film Institute Life Achievement Award pada 1993. Liz kembali ke layar lebar untuk memerankan ibu mertua manusia modern zaman batu Fred Flintstones, Pearl Slaghoople, pada 1994 di film The Flintstones.

Pada 1999, dia dianugerahi gelas DBE (Dame) oleh pemerintah Inggris dan Ratu Elizabeth II. “Saya selalu ada di luar negeri, sekrang saya seorang Dame,” ujar Liz yang gembira dengan penghargaan itu.

Presiden AS Bill Clinton juga memberinya Presidential Citizens Medal sebagai pengakuan atas komitmennya terhadap filantropi pada 2001. Penghargaan itu adalah penghargaan untuk warga sipil kedua tertinggi di AS.

Jejak kaki dan tangan Liz juga diabadikan di Grauman’s Chinese Teater dan mendapatkan bintang di Hollywood Walk of Fame di 6336 Hollywood Boulevard di Hollywood, California.

Serentetan penghargaan di dunia hiburan itu tidak bisa membebaskan Liz dari masalah kesehatan. Memasuki usia 65, aktris yang berkawan dekat dengan King of Pop Michael Jackson itu terbelit berbagai penyakit.

Pada Februari 1997, Liz harus menjalani operasi pengangkatan tumor ringan di otaknya.

November 2004, Liz mengaku dia diagnosis menderita gagal jantung, kondisi dimana jantung tidak bisa memberikan darah yang cukup untul dialirkan ke seluruh tubuh.  Pada 2009, dia menjalani operasi jantung. Liz sudah lima kali mengalami patah tulang punggung. Dia juga mengalami kanker kulit dan dua kali terserang pneumonia.

Karena kesehatannya yang terus menurun itu, Liz jadi jarang terlihat di publik dan tidak bisa menghadiri banyak acara. Sekarang, dia harus duduk di kursi roda untuk bisa bepergian.

Beberapa tahun terakhir, Liz jadi dekat dengan anjing piaraannya yang bermana Sugar. “Saya belum pernah mencintai seekor anjing seperti ini dalam hidup saya. Mengagumkan. Kadang saya merasa ada orang hidup di dalam anjing saya itu. Terlalu banyak kata untuk mengungkapkan cinta seperti ini,” papar Liz.

Sayangnya, Sugar mati pada Juni 2005 lalu. Sebagai gantinya, Liz membeli anjing yang bernama Daisy. “Sebelum pria, cinta besar saya adalah untuk binatang, yang masih saya miliki,” ujar Liz, dikutip dari AFP.

Sejak terus menerus jatuh sakit, Liz tampaknya sadar bahwa hidupnya mungkin sudah tidak akan lama lagi. Dia ingin agar ketika dia meninggal nanti, dia kremasi dan abunya disebarkan di Wales. “Di sini makam Elizabeth. Dia benci dipanggil Liz,” cetus Liz ketika ditanya apa yang dia inginkan untuk batu nisannya bila dia tidak dikremasi.

Terbelit masalah kesehatan, Liz masih tetap ingin berakting. Namun, dia sadar tidak ada perusahaan film yang mau mengontraknya saat ini. “Bagi saya, akting sekarang terasa artifisial. Melihat penderitaan orang itu nyata. Itu bisa jadi lebih nyata. Beberapa orang tidak suka melihatnya karena itu menyakitnya. Tetapi kalau ada orang yang melakukannya, tidak ada yang bisa dia perbuat,” tuturnya.

Selain akting, Liz mendedikasikan dirinya pada upaya pemberantasan AIDS dan HIV. Bintang kelahiran London, 27 Februari 1932 itu mendirikan American Foundation for AIDS Research (amfAR) dan The Elizabeth Taylor AIDS Foundation.

Liz juga seorang entrepreneur, dengan memiliki produk parfum yang laris dan sejumlah merek perhiasan. Wawancara terakhir Liz muncul di edisi Maret majalah Harper’s Bazaar. Dalam wawancara itu, dia mengecam bintang reality show AS Kim Kadarshian, dari kisah cintanya, peran ikoniknya sampai perhiasannya. “Saya tak pernah berencana mendapatkan banyak perhiasan atau banyak suami,” ujar Liz. “Saya sudah sangat beruntung dalam hidup saya dan saya mengenali cinta yang hebat dan tentu saja, saya adalah penjaga sementara beberapa hal yang hebat dan indah.” (to be continued)

Photo Courtesy: REUTERS/Mario Anzuoni/Files

 

 

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s