News: Target Ada, Tujuan Serangan Tak Jelas

SELURUH pertimbangan terkait aksi militer yang dilancarkan terhadap Pemimpin Libya Muammar Khadafi telah gagal menjawab pertanyaan paling mendasar: Apakah serangan itu benar-benar bertujuan melindungi rakyat Libya dari serbuan pemerintah atau dimaksudkan untuk memenuhi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama bahwa Khadafi harus turun?

“Kita tidak mengejar Khadafi,” ujar Direktur Kepala Staf Gabungan AS Wakil Laksamana William E Gortney pada Minggu (20/3), yang dikutip New York Times. Saat itu ada laporan ledakan keras dan asap mengepul dari kompleks Khadafi di Tripoli, menyiratkan bahwa unit militer atau pos komando di sana sudah menjadi target.

Itu adalah tanda jelas bahwa apapun maksud yang mereka umumkan, serangan militer Inggris, Prancis dan AS yang dimulai pada Sabtu (19/3) itu mungkin mengancam pemerintah.

Tapi, ada juga risiko bahwa kekuatan Khadafi tidak akan goyah akibat serangan udara itu. Inilah yang meninggalkan pertanyaan apakah AS dan sekutunya memiliki komitmen sumber daya yang cukup untuk memenangkan pertarungan. Penundaan serangan itu telah memperumit jalan akhir drama ini. Serangan militer dukungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu butuh waktu 22 hari dari pertama kali ketika pasukan Khadafi menembaki pengunjuk rasa di Libya.

Pada saat rudal penjelajah Amerika mencapai target Libya pada Sabtu itu, tentara Khadafi, yang sebagian besar adalah tentara sewaan, telah menekan pemberontak Libya dari tepi Tripoli di barat Libya kembali ke Benghazi di timur dan nyaris merebut sarang pemberontak itu. Tapi, serangan Amerika itu memaksa pasukan pemerintah kocar kacir dan mendorong pemberontak untuk bersatu lagi.

“Saya harap belum terlambat,” ujar Senator Republikan dari Arizona John McCain pada program State of the Union di CNN. “Jelasnya, kalau kita mengambil langkah ini beberapa pekan lalu, zona larangan terbang sudah cukup. Sekarang, zona larangan terbang tidak cukup. Ada kebutuhan terhadap langkah lain.”

Para pakar kawasan itu dan bahkan beberapa pejabat pemerintahan mengakui melengserkan Khadafi mungkin lebih mudah jika serangan internasional itu dimulai ketika pemberontak tampaknya sudah berada di atas angin, bukan ketika pemberontak anti-Khadafi sudah dipukul mundur ke Benghazi.

Bagi Obama, yang secara terang-terangan sudah memaparkan bahwa Khadafi sudah kehilangan hak memerintah, teka teki dasarnya adalah mandat PBB tidak mewenangkan pelengseran Khadafi. Jadi, sekarang, Obama menandaskan tujuannya terbatas: menggunakan militer untuk melindungi rakyat Libya dan membuka jalan bagi bantuan kemanusiaan.

Pemimpin DPR AS dari Republikan segera menandaskan bahwa tujuan operasi itu tidak jelas. “Presiden adalah panglima tertinggi. Tapi pemerintah punya tanggung jawab untuk menegaskan kepada rakyat, Kongres dan tentara Amerika apa misi di Libya, menjelaskan dengan lebih baik apa peran Amerika dalam misi itu dan menjelaskan bagaiman itu akan diselesaikan,” ujar Ketua DPR AS John A Boehner.

Ketua Komisi Layanan Bersenjata DPR, Howard P McKeon dari California, bertanya,”Apa kita bertujuan melindungi rakyat Libya atau menggulingkan Muammar Khadafi? Dalam kasus lain, untuk apa dan seberapa lama militer kita akan digunakan?”

Bahkan beberapa sekutu, termasuk anggota Liga Arab, tampaknya juga menanyakan tujuan serangan itu.

Apa pun tujuan jelasnya, kerusakan pada lingkaran kuasa Khadafi sudah signifikan. Tulang punggung jaringan pertahanan udaranya kacau balau, pasukan udaranya secara efektif sudah di-grounded, pasukan daratnya di timur terpukul dan jalur suplai logistiknya akan dipotong.

Sementara Khadafi bukanlah target, Gortney memaparkan,”Kalau saat ini dia ada di sebuah tempat, kalau dia mengawasi lokasi rudal udara, dan kami tidak tahu apa dia di sana atau tidak, maka ….” Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Kalau Khadafi tetap berkuasa, itu akan menyebabkan misi bekingan AS dan PBB itu seolah gagal. “Barack Obama menyuruh Khadafi mundur. Kalau Khadafi tidka pergi, Amerika akan terlihat jelek di mata dunia,” ujar Steven Clemons dari New American Foundation.

Stephen J Hadley, mantan penasihat keamanan nasional George W Bush dan arsitek invasi Irak 2003, justru mengkhawatirkan pendekatan terbatas akan menyebabkan kegagalan. “Saya tidak melihat yang ada di balik stategi di Libya,” ujarnya. “Kita sekarang berada di situasi di mana kita melakukan salah hitung terhadap apa yang dikatakan presiden, yang diwenangkan Dewan Keamanan PBB dan seperti apa sebenarnya kesiapan kita dalam sumber daya.”

Menurut Hadley, Obama ingin Khadafi mundur, tapi resolusi Dewan Keamanan PBB mengatakan kalau mereka ingin mencegah bencana kemanusiaan dan penyerangan terhadap warga sipil dan dalam hal sumber daya, AS sudah sangat tidak mau terlibat secara militer.

Bahkan banyak sekutu Obama memaparkan kalaupun pemerintah bertindak lebih dini—katakanlah 10 hari sebelumnya, sebelum pasukan yang loyal kepada Khadafi menguasai lebih banyak wilayah—proses penggulingan Khadafi akan jauh lebih mudah. Senator John Kerry, ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Senat, meminta respons yang lebih cepat.

Pemerintah berpendapat tangan mereka terikat sampai Liga Arab dan PBB bertindak—dan bahwa sekarang belum telat. Didukung serangan udara koalisi, menurut pejabat pemerintah, pasukan pemberontak tampaknya akan memiliki kemampuan untuk memegang kembali momentum.

Source: The New York Times
Printed Version Available on Tuesday, March 22, 2011
Photo Courtesy: AFP/FETHI BELAID

 

 

 

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in News and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s