Artikel: Mengapa Tak Ada Penjarahan di Jepang

BIASANYA pascagempa akan terjadi masalah sosial di tengah masyarakat. Orang-orang menjarah apa saja dan berebut makanan atau layanan pemerintah. Tapi, kejadian seperti itu nyaris tak terjadi di Jepang pascagempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang memporak-porandakan negara itu pada Jumat (11/3) lalu.

“Tak ada penjarahan terjadi di Jepang pascagempa. Saya bahkan yakin tidak ada kata-kata itu, penjarahan, terdengar di negara itu,” papar Gregory Pflugfelder, direktur Donald Keene Center of Japanese Culture di Universitas Columbia kepada CNN.

Menurut dia, orang-orang Jepang memiliki rasa untuk menjadi yang pertama dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.

Menurut Merry White, dosen antropologi di Universitas Boston yang mempelajari kebudayaan Jepang, pertanyaan sesungguhnya adalah mengapa penjarahan dan kerusuhan justru terjadi di dalam masyarakat Amerika. Dia mengarahkan jawabannya pada pengasingan dan jurang kelas sosial.

“Ada pengasingan dan beberapa jurang kelas di Jepang yang sangat besar, tapi kekerasan dan mengambil milik orang lain tidak bisa diterima begitu saja atau didukung secara budaya di negara itu,” papar White.

Pflugfelder berada di Jepang untuk menghadiri konferensi dan menyaksikan betapa tenangnya warga Tokyo saat gempa mengguncang. Tokyo berada pada jarak 370 km dari episentrum gempa dan kehancuran. Pflugfelder berada di dalam Perpustakaan Nasional Diet (parlemen Jepang) ketika gempa datang.

“Kenyataan bahwa perpustakaan memutuskan membiarkan orang-orang berada di dalam gedung hingga melampaui waktu tutup selama 1,5 jam adalah hal pertama yang membuat saya menyadari ukuran bencana itu karena melencengnya waktu dari jadwal, dari kebiasaan itu, agak aneh,” ujarnya.

Pflugfelder juga terkesan dengan barisan teratur yang terbentuk ketika stasiun bawah tanah dibuka lagi pada sekitar tengah malam. “Ketertiban dan disiplin sosial itu yang diberlakukan seperti normal itu membuat saya berpikir bahwa orang Jepang itu sangat mudah meneruskan tata krama yang sudah biasa mereka jalankan sehari-hari, bahkan di bawah situasi darurat,” papar dia.

Semangat kemasyarakatan di yayasan kebudayaan Jepang tampaknya berfungsi bahkan lebih efisien di tengah tekanan akibat bencana. Ini berbeda dengan orang Amerika yang lebih suka bertindak sendiri-sendiri.

“Jadi, mereka melakukan apa pun yang kalian bisa untuk melindungi kepentingan pribadi dengan memahami bahwa semua orang akan melakukan hal yang sama, dan ketertiban akan ditegakkan tangan-tangan yang tak terlihat,” ujar Pflugfelder. “Dan, orang Jepang tidak seperti itu. ketertiban datang dari kelompok dan dari komunitas seperti muncul tanpa diperintah.”

Apakah sikap sosial seperti ini akan membantu Jepang pulih dari bencana besar ini? “Dalam satu kata, iya,” pungkas Pflugfelder dengan tegas.

 

Source
Printed version available on Monday, March 14, 2001
Photo courtesy: AFP PHOTO/MIKE CLARKE

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s