Artikel: Bencana Kobe Beri Pelajaran Berharga

RASANYA tak ada negara lain yang memiliki persiapan lebih baik dalam menghadapi gempa bumi selain Jepang. Sebelum guncangan besar melanda negara itu, jutaan orang telah diperingatkan semenit sebelum gempa itu datang.

“Kalau ada tempat di dunia yang siap untuk bencana skala historis seperti ini, maka tempat itu adalah Jepang,” ujar Stacey White, konsultan riset senior di Pusat Kajian Strategis dan Internasional kepada AFP.

Tak ada salahnya jika warga Jepang berterima kasih pada sistem peringatan dini gempa dan tsunami terbaik di dunia. Teknologi rumit itu, yang terkoneksi dengan sebuah jaringan sekitar 1.000 seismometer di seluruh negara, memberikan waktu penting beberapa detik bagi warga untuk berlindung dan inilah yang diperkirakan telah menyelamatkan banyak nyawa. Meskipun, korban jiwa akibat gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang disusul tsunami setinggi 10 meter itu memang tak bisa dihindarkan.

“Sistem itu berfungsi dengan baik karena peringatan ditayangkan di televisi di seluruh penjuru negeri,” ujar Hirohito Naito, spesialis seismic di Badan Meteorologi Jepang kepada Telegraph.

Kesiapan warga menghadapi gempa juga tak lepas dari latihan menghadapi gempa yang sering digelar di Jepang. Warga akan segera mengikuti prosedur penyelamatan gempa begitu tanda peringatan gempa untuk latihan ini digemakan.

Bahkan, anak-anak sekolah pun sudah akrab dengan latihan ini. Dalam latihan itu, mereka diajarkan untuk berlindung di bawah meja begitu sirene peringatan berbunyi. Jika anak-anak berada di luar kelas, mereka akan segera berkumpul di pusat ruang terbuka untuk menghindari tertimpa serpihan benda.

Petugas pemadam kebakaran membawa kelompok anak-anak ini ke mesin simulasi gempa agar mereka mengenali rasa terguncang. Sekolah yang memiliki dua atau lebih lantai memiliki seluncur evakuasi sehingga anak-anak bisa meluncur ke bawah dengan aman.

Tayangan televisi dari beberapa sekolah dan kantor di Tokyo saat gempa mengguncang Jepang pada Jumat (11/3) memperlihatkan para pekerja dan siswa sekolah tampak sangat tenang dan sabar ketika gedung-gedung bergoncang keras, menyebabkan banyak benda berjatuhan dari meja dan buku-buku jatuh dari rak. Prosesi evakuasi anak-anak juga tak kalah tenangnya. Mereka dengan teratur terlihat berjalan tenang dengan mengenakan helm menuju pusat evakuasi.

Warga juga telah memahami bagaimana menghadapi gempa dari latihan waspada yang sering mereka ikuti. Warga biasanya menyimpan tas punggung di dekat pintu, mengisinya dengan air kemasan, makanan kalengan atau kering, perlengkapan P3K, uang tunai, pakaian, radio, senter dan banyak batere.

Saran umum adalah menyimpan sepasang sepatu di bawah tempat tidur dan sepeda di luar kamar, ini agar warga bisa tetap berjalan di ruangan rumah dan di jalanan yang penuh pecahan kaca dan serpihan bangunan atau benda lainnya. Banyak orang juga berlangganan peringatan gempa di telepon seluler. Mereka juga tahu harus berlindung di bawah meja yang kuat, segera menutup aliran gas dan membiarkan pintu sedikit terbuka.

Kerusakan bangunan di Tokyo tak terlalu parah akibat gempa itu. Ini disebabkan karena bangunan memiliki teknik yang memastikan bahwa gedung-gedung pencakar langit di ibu kota Jepang itu akan ikut melambai jika ada gempa, tapi tidak akan runtuh.

Gedung-gedung dibuat tahan gempa dengan bantuan pondasi yang dalam dan pengisap getaran besar yang memperkecil energi seismik. Metode lainnya membuat dasar sebuah bangunan bergerak semi-independen ke superstrukturnya, ini mengurangi goyangan akibat gempa. Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan kereta supercepat dirancang untuk otomatis berhenti beroperasi begitu bumi bergoncang.

Persiapan-persiapan inilah yang membuat banyak nyawa bisa diselamatkan dalam bencana sebesar yang terjadi pada Jumat itu. Selain itu, respons cepat pemerintah juga sangat berperan.

“Di masa lalu, Jepang biasanya seperti negara-negara Asia Tenggara saat ini ketika dihantam bencana,” ujar Toshitaka Katada, dosen di Laboratorium Sosial Bencana Universitas Gunma, kepada AFP. “Ribuan orang tewas tiap tahun sampai 50 tahun lalu.”

Sejak topan 1959 yang menewaskan lebih dari 5.000 orang, korban tewas dalam bencana alam di Jepang telah turun menjadi ratusan atau puluhan orang—dengan pengecualian gempa Kobe pada 1995 yang menewaskan 6.400 orang.

“Ini karena pemerintah telah membuat usaha melindungi rakyatnya dari bencana menjadi tanggung jawab negara,” ujar Katada. “Lembaga-lembaga administratif lokal dilatih untuk segera mengeluarkan peringatan dan perintah evakuasi dan menyalurkan makanan serta selimut di pusat penampungan pengungsi.”

Pemerintah juga membangun beberapa infrastruktur seperti bendungan dan tembok-tembok besar untuk menahan banjir dan tanah longsor. Ada alasan sederhana mengapa banyak nyawa bisa diselamatkan di Jepang karena negeri matahari terbit adalah negara kaya.

“Jepang memiliki sistem peringatan dini paling maju di dunia,” ujar Hiroshi Inoue dari Institute Riset Nasional untuk Pengetahuan Bumi dan Pencegahan Bencana kepada AFP. “Tapi, ini tidak sempurna, terutama bagi mereka yang tinggal di dekat episentrum gempa.”

Pemerintahan yang bagus dan penegakan hukum juga penting dalam usaha pencegahan ini.

Sekolah dan rumah sakit tampaknya tidak akan runtuh jika dibangun dengan baik dan tidak melemah karena pejabat yang korup menggunakan material yang jelek untuk mengutip uang, sebagaimana terjadi di banyak negara lain.

Pelajaran dari Kobe

Banyak pelajaran yang tampaknya telah dipelajari Jepang dari gempa Kobe. Gempa itu membuat Jepang kemudian melalukan penaksiran kembali peraturan pembangunan gedung baik untuk perkantoran, permukiman dan infrastruktur transportasi.

Ketika gempa itu mengguncang, banyak gedung-gedung yang akhirnya rata dengan tanah, jalan-jalan layang runtuh dan rel kereta rusak serta warga tewas terkubur hidup-hidup.

Korban manusia dan ekonomi itu menyoroti kurangnya persiapan dan menjadi seruan kepada otoritas setempat untuk mempersiapkan warganya agar lebih baik dalam menghadapi gempa di negara yang tiap tahun mengalami 1.500 getaran gempa dengan kekuatan bervariasi.

“Kami telah belajar banyak dari gempa Kobe,” ujar Satoru Saito, analis dari Nomura Research. “Hasilnya, teknologi gempa Jepang telah berkembang drastis. Tak diragukan lagi, Jepang adalah pemimpin dunia dalam teknologi itu.”

Pascabencana Kobe, Jepang meningkatkan respons gempa dengan banyak latihan evakuasi, yang biasa dilakukan di sekolah dan kantor-kantor.

Sebuah undang-undang yang disahkan pada 2007 menegaskan gedung baru harus memiliki sistem tahan gempa yang lebih kuat. Berdasarkan undang-undang itu, gedung pencakar langit, pabrik, pembangkit listrik, jembatan dan stasiun kereta api harus dibangun atau ditambahi dengan sistem yang tahan pada getaran lebih kuat, jadi gempa berkekuatan 5 skala Richter sekarang biasanya hanya menyebabkan sedikit kerusakan.

Pada tahun yang sama, Tokyo juga mengungkapkan apa yang diundang-undangkan sebagai sistem peringatan gempa skala besar pertama di dunia. Undang-undang ini dirancang untuk memberikan peringatan beberapa detik kepada warga sebelum gempa mengguncang mereka.

Sistem peringatan, yang dioperasikan Badan Meteorologi Jepang itu, bekerja dengan gelombang pertama yang dideteksi, menyebar dari episentrum gempa dan bergerak lebih cepat dari getaran kedua yang lebih keras.

Peringatan itu akan mati begitu gelombang pertama dari intensitas tertentu terdeteksi sebelum gelombang yang lebih besar. NHK akan menyiarkan peringatan itu ke televisi dan radio. Warga punya waktu sekitar 30 detik untuk berlindung, mematikan gas atau memakai helm.

Namun, tak ada persiapan matang yang dapat menghindarkan dari kerusakan besar dan jatuhnya korban jiwa pada gempa seperti yang terjadi Jumat itu. “Gampangnya, mustahil bagi negara mana pun—tak peduli fokus mereka pada persiapan—untuk memprediksikan dan merencanakan semua konsekuensi yang mungkin terjadi pada bencana alam,” ujar White dari Pusat Kajian Strategis dan Internasional.

Printed version available on Sunday, March 13, 2011
Photo courtesy: REUTERS/Kyodo

 

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s