News: Thailand Bongkar Jaringan Surrogate Mother

POLISI Thailand berhasil membongkar jaringan perdagangan manusia (human trafficking) yang memaksa para wanita untuk mengandung anak dari benih orang lain (surrogate mother). Pada Kamis (24/2), mereka menyelamatkan 14 wanita Vietnam yang tujuh di antaranya sedang hamil.

Beberapa wanita Vietnam yang menjadi korban human trafficking diperiksa polisi di Bangkok, Thailand.

Jaringan bernama Baby 101 itu menerima pesanan via email atau agen dari pasangan yang belum punya anak dan dalam beberapa kasus, pasangan pria akan menyediakan sperma untuk menginseminasi wanita-wanita yang akan menjadi surrogate mother itu.

“Ini ilegal dan tidak berperikemanusiaan. Dalam beberapa kasus, beberapa wanita itu sepertinya diperkosa,” ujar Menteri Kesehatan Thailand Jurin Laksanawisit. Dia menambahkan bahwa anak-anak yang dikandung para wanita itu akan dirawat di sebuah rumah sakit swasta.

Para wanita Vietnam, yang beberapa ditawari uang ribuan dolar per satu bayi, disekap di dua rumah di Bangkok dan paspor mereka dirampas oleh jaringan itu. Para wanita itu berhasil dibebaskan setelah mengirimkan email ke kedutaan besar Vietnam yang kemudian memberi tahu otoritas Thailand.

“Kami menemukan 13 wanita di dua rumah ketika kami geledah, kami menemukan satu lagi di rumah sakit,” ujar Letnan Kolonel Prast Khemaprasit, polisi imigrasi.

Prasat memaparkan, wanita yang mereka temukan di rumah sakit itu baru saja melahirkan. Kepada BBC, seorang pejabat dari Kementerian Pembangunan Sosial dan Keamanan Manusia mengungkapkan, para wanita itu ketakutan.

“Sembilan wanita itu mengaku rela menjadi surrogate mother karena diiming-imingi uang sebanyak USD5.000 (Rp44 juta) untuk tiap bayi yang dilahirkan. Empat lainnya mengaku dijebak,” papar Mayor Jenderal Manu Mekmok, komandan investigasi departemen imigrasi, dikutip AFP.

Dalam penggerebekan dua rumah itu, polisi juga menangkap empat warga Taiwan, satu warga China dan tiga warga Myanmar. Mereka ditangkap atas dugaan terkait bisnis itu dan dituntut bekerja secara ilegal di Thailand. Seorang wanita Taiwan berusia 35 tahun, yang disebut sebagai operator kegiatan itu, dikenai tuntutan perdagangan manusia.

Polisi masih menyelidiki apakah masih ada wanita lain yang disekap di lokasi berbeda.

Dalam operasinya, Baby 101 memasang hampir 40 foto wanita dengan kode nomor di situsnya. Sebagian dari mereka berpose di dekat kolam renang. Situs itu mengoar-oarkan tampang ganteng dan kesehatan pendonor sperma dan pendonor ovum. Mereka juga memperlihatkan rumah dan rumah sakit di kawasan yang tenang, lengkap dengan kolam renang dan keamanan yang bagus. Situs itu juga menampilkan gambar-gambar wanita hamil di rumah.

Mereka menawarkan layanan surrogate mother itu, dari donasi telur dan sperma hingga kelahiran, dengan harga USD32.000 (Rp282 juta). Harga itu belum termasuk biaya-biaya lain.

Situs itu mengungkapkan tidak menggunakan wanita Thailand sebagai wanita pengandung bayi dan menambahkan mereka dilindungi undang-undang.

Bisnis ini menyasar kepada konsumen mereka di Taiwan. Para pelaku mengaku karena menjalankan bisnis surrogate mother komersial itu ilegal di pulau itu maka mereka menggelar operasi mereka di tempat lain. Mereka memiliki kantor di Bangkok, Phnom Penh dan Vietnam.

Perusahaan itu menyebut diri sebagai “surrogate (pengandung) egenetik” dan menjanjikan menghubungkan klien dengan sang surrogate mother. “Kami menciptakan kondisi terbaik bagi bayi Anda, terutama melalui pemilihan embrio yang efisien, hanya yang terbaik yang akan dipakai,” ujar situs itu.

Surrogacy (penitipan janin dalam kandungan orang lain) komersial dilarang di Thailand berdasarkan peraturan praktik medis dan layanan rumah sakit. Bangkok Post memaparkan, dokter dan rumah sakit yang memberikan layanan surrogacy non-komersial harus memenuhi persyaratan pengumuman layanan medis yang melibatkan teknologi reproduksi yang dikeluarkan Dewan Medis Thailand.

Presiden Royal College of Obstetrics and Gynaecology Thailand Somboon Kunatikom memaparkan draf undang-undang perlindungan anak yang dilahirkan dengan teknologi medis ditujukan untuk menyelesaikan masalah surrogacy ilegal. Draf itu masih menunggu persetujuan parlemen.

Dalam draf itu dipaparkan, seorang pekerja surrogacy ilegal akan dipenjara selama 10 tahun dan/atau dikenai denda 200.000 baht (Rp57,5 juta) dan seorang broker akan diganjar lima tahun penjara dan/atau denda sebesar 100.000 baht (Rp28,7 juta).

Printed version available on Saturday, February 26th, 2011
Photo courtesy: AFP

 

 

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in News and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s