Article: Suriah Belum Goyah

Revolusi di dunia Arab terus bergulir. Setelah Tunisia dan kini masih terjadi di Mesir, Aljazair, Yaman, Yordania dan Sudan, gelombang pemberontakan massa itu tengah mengintip negara diktator lain, Suriah.

TERTULARI gerakan rakyat yang berhasil menggulingkan pemerintahan 23 tahun Presiden Zine El Abidine Ben Ali di Tunisia, oposisi di Suriah berusaha menirunya. Lewat situs jejaring sosial Facebook, mereka memanggil rakyat untuk ikut berdemonstrasi di Damaskus, Aleppo dan beberapa kota lain.


Tujuannya jelas. Mereka menuntut perbaikan taraf hidup, hak asasi manusia yang lebih terjamin dan suara untuk para pemuda. Namun, sampai kini tak jelas berapa orang yang mau bergabung dengan aksi unjuk rasa itu.

Beberapa ribu orang memang telah menyuarakan dukungan mereka bagi pergerakan itu di laman Facebook. Namun, jelas sekali bahwa sebagian dari mereka berasal dari luar negeri. Lantas, bagaimana penguasa Suriah menanggapi aksi itu dan kondisi terakhir di Timur Tengah?

Para pemimpin Suriah bukannya tutup mata terhadap apa yang tengah bergolak di Jazirah Arab. Mereka tahu dan sadar bahwa revolusi itu terus bergulir dan bisa saja terjadi di mana saja. Tak heran jika mereka mulai mengubah cara pendekatan kepada rakyat, sebagai antisipasi meletusnya revolusi berdarah.

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Presiden Suriah Bashar al-Assad menandaskan, akan menekan lebih banyak reformasi politik di negara itu. Assad, yang mewarisi tahta kuasa yang sudah dipegang rezim itu selama 40 tahun, telah berkuasa selama hampir 11 tahun di Suriah.

Assad mengakui unjuk rasa yang terjadi Tunisia, Yaman dan Mesir mengantarkan “era baru” ke Timur Tengah dan para penguasa Arab harus melakukan lebih banyak untuk mengakomodasi aspirasi politik dan ekonomi rakyat mereka yang terus meningkat.

“Kalau Anda tidak melihat pentingnya reformasi sebelum apa yang terjadi di Mesir dan Tunisia, maka sudah telat untuk bereformasi,” ujar Assad.

Penguasa Suriah, yang menggantikan ayahnya, dipandang selalu mengekang negaranya dan hanya sedikit memberikan toleransi pada unjuk rasa. Rezimnya juga mempertahankan kemitraan dekat dengan Iran dan kelompok militan seperti Hezbollah di Lebanon dan Hamas di Palestina.

Sementara sebagian besar pemberontakan rakyat telah terjadi di beberapa negara yang memiliki aliansi dengan Amerika Serikat (AS), pernyataan Assad itu mengindikasikan bahwa efek gelombang unjuk rasa di Mesir akan mencapai pemimpin Timur Tengah baik yang merupakan teman maupun musuh Washington.

Respons Suriah terhadap situasi di Mesir memang penting. Utamanya, karena meskipun hubungan Assad dengan AS renggang, namun, pemerintah Presiden Barack Obama telah berusaha menarik Damaskus agar menjauhi Iran dan lebih mendekat ke Washington.

Namun, pernyataannya dalam wawancara itu juga menyiratkan bahwa pendiriannya akan lebih keras setelah apa yang terjadi di Mesir. Menurut Assad, dia akan lebih punya banyak waktu untuk membuat perubahan dibanding apa yang telah dilakukan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Alasannya, posisinya yang anti-AS dan konfrontasinya dengan Israel membuatnya mendapatkan tempat yang lebih baik di kelas akar rumput di negaranya.

“Suriah itu stabil. Mengapa?” ujar Assad. “Karena Anda harus jadi sangat dekat terkait kepercayaan rakyat. Inilah intinya. Ketika ada perbedaan, Anda hanya perlu membersihkan apa yang menyebabkan gangguan itu.”

Assad menegaskan akan mendorong reformasi politik tahun ini yang ditujukan untuk mengawali pemilu tingkat perkotaan, memberikan lebih banyak wewenang kepada organisasi non-pemerintah (NGO) dan membuat undang-undang baru media.

Pemerintahan Assad—dan juga ayanhnya, mendiang Hafez al-Assad—dikritik sebagai salah satu pemerintahan terkeras di kawasan itu, karena menahan oposisi tanpa dakwaan. Inilah yang lantas membuat Barat berspekulasi tentang adanya aksi unjuk rasa di negara itu. Sistem politik satu partai Suriah dan media yang dikontrol pemerintah dilihat banyak orang sebagai sesuatu yang lebih kaku daripada Mesir dan Tunisia.

Assad mengakui bahwa langkah reformasi politik di Suriah belum bergerak secepat yang dia impikan begitu mengambil alih kuasa setelah ayahnya meninggal dunia pada 1999. Namun, dia tampaknya tidak akan segera melakukan reformasi cepat. Menurut dia, negaranya butuh waktu untuk membangun institusi dan memperbaiki pendidikan sebelum membuka sistem politik Suriah.

Dia memandang meningkatnya permintaan reformasi politik bisa kontra-produktif jika masyarat Arab belum siap. “Apa akan memnjadi era baru menuju kekacauan atau institusionalisasi? Itulah pertanyaannya,” ujar Assad. “Babak akhirnya belum jelas.”

Banyak diplomat dan analis yakin Suriah bisa menjadi barometer arah Timur Tengah. Pengaruh Damaskus telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir di saat aliansinya dengan Iran dan organisasi militan membuka pintu untuk membarui pengaruhnya di Lebanon, Palestina dan Irak.


Sumber: Sana dan Sini
Photo Courtessy: AFP/LOUAI BESHARA
*This is the extended version of edited publication in printed media on February 3, 2011*

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s