Article: Pemimpin Terlama Di Dunia Yang Masih Menjabat

Dari Alasan Pribadi sampai Faktor Sejarah

Sebagian orang menganggap kekuasaan itu menyenangkan. Berada di pucuk kekuasaan membuat orang merasa mampu memenuhi semua yang diinginkan. Tak heran, banyak orang yang tak mau turun dari singasana kuasa.

Bulan ini, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh merayakan 32 tahun kekuasaannya di negara Arab itu. Tentu saja itu sebuah angka yang istimewa. Tak hanya sekadar simbol betapa kuatnya pengaruh Saleh di negara itu, tapi juga mengukir sejarah tersendiri.

Saleh adalah presiden pertama Yaman sejak negara itu didirikan 32 tahun yang lalu dan sampai sekarang belum tergantikan. Seberapa hebatkah dia?

Saleh menjadi presiden republik baru yang dibentuk dari merger dua Yaman pada 1990. Dia telah memimpin Republik Arab Yaman – bagian utara Yaman saat ini – sejak 1978. Selama berkuasa, dia didukung dua pilar kekuatan utama di Yaman, yaitu suku pribumi dan militer. Pada 1999, dia memenangkan pemilu presiden langsung pertama dengan memperoleh lebih dari 96% suara. Namun, pemilu itu berjalan tidak demokratis karena partai oposisi dilarang mencalonkan presiden. Pemilu ini dianggap oposisi sebagai pemilu bohong-bohongan.

Meski demikian, Amerika Serikat (AS) masih mempercayai Saleh dalam program perang melawan teror. Sejak program itu dimulai, Yaman telah bekerjasama dengan Washington. Saleh dikenal berhasil menyelesaikan masalah perbatasan dengan beberapa tetangganya, seperti Arab Saudi dan Oman. Hingga saat ini, Saleh belum menunjukkan tanda-tanda bakalan mengundurkan diri. Apalagi, pada 2006, dia memenangkan pemilu yang memberikannya mandat baru sebagai presiden hingga 2013 mendatang.

Saleh hanyalah satu dari sekian pemimpin dunia yang telah lebih dari 25 tahun bertahan di posisinya sebagai kepala pemerintahan negaranya. Dia adalah salah satu pemimpin dunia Arab yang paling lama memerintah dan masih menjalani masa jabatannya.

Di belahan dunia lain, pemimpin jenis ini masih banyak. Terbanyak berasal dari Afrika. Dalam daftar 10 kepala pemerintahan dunia yang masih menjabat dalam kurun waktu lama, tujuh di antaranya berasal dari benua Afrika. Satu dari Asia, yaitu Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, satu dari negara Arab, yaitu Presiden Saleh dan satu dari Amerika, yaitu Castro bersaudara.

Dilihat dari daftar tersebut (lihat grafis) tentu muncul pertanyaan, mengapa para pemimpin Afrika cenderung mempertahankan kekuasaannya? Jawabannya cukup kompleks. Berbagai alasan saling mempengaruhi satu sama lain, dari alasan pribadi, nasional, sejarah, budaya sampai juga karena faktor global.

Tahun ini, Robert Mugabe merayakan 30 tahun dirinya menjadi kepala pemerintahan Zimbabwe. Hingga saat ini, belum ada tanda dia ingin mundur dari kuasanya itu. Bahkan pemilu “demokratik” yang digelar Zimbabwe pada 2009 pun tak mampu menggeser kedudukan Mugabe sebagai orang kuat di negara itu.

Padahal, di bawah pemerintahannya, ekonomi Zimbabwe morat marit. Inflasi bahkan menembus angka lebih dari 100.000%, sebuah angka yang amat sangat fantastis tentu saja. Selain itu, banyak tudingan terjadi pelanggaran hak asasi manusia di negara itu, terlebih terhadap oposisi. Berbagai sanksi internasional terhadap Zimbabwe tak mampu menggoyahkan Mugabe dari pucuk kuasa.

Selain Mugabe, masih banyak lagi pemimpin Afrika yang tak mau begitu saja menyerahkan kuasa kepada orang lain dan masih menikmati kekuasaan itu. Terakhir, Presiden Gabon Omar Bongo membuktikan diri sebagai presiden seumur hidup. Dia meninggal dunia ketika masih menjabat sebagai presiden. Dia telah berkuasa selama 40 tahun di Gabon.

Di kawasan Afrika bagian selatan, Zimbabwe, Mosambik dan Angola mengalami perang brutal untuk mengusir mundur pemerintahan kolonial. Dengan menolak menyerahkan kekuasaan melalui cara-cara yang demokratis, pemerintahan kolonial membentuk sebuah preseden di Afrika. Mereka yang mengambil alih kekuasaan itu mempelajari pelajaran brutal yang sama dari para penjajah mereka.

Generasi paling awal pemimpin Afrika adalah komunis dan sosialis. Para teladan mereka, seperti Mao Tse Tung dan Joseph Stalin, mencontohkan untuk tidak menyerahkan kuasa secara sukarela.

Selain itu, generasi awal pemimpin Afrika tumbuh di bawah pemerintahan kolonialisme. Dari Gereja Katolik Roma, mereka belajar bahwa Paus itu sempurna dan menjabat hingga akhir hayatnya, sementara tahta kerajaan Inggris itu diwariskan secara turun temurun. Konsep kekuasaan seperti itu dan harga diri tidak ada dalam sebagian besar pemerintah pra-kolonial di Afrika. Dari mereka, para pemimpin Afrika belajar bagaimana mempertahankan kuasa.

Penyerahan kekuasaan kepada orang lain di  pemerintahan Afrika dalam berbagai situasi dilakukan melalui kudeta berdarah atau kampanye gerilya brutal.

Dengan perginya pemerintah kolonial, ada rasa di antara para pemimpin Afrika ini bahwa karena mereka mengambil risiko personal yang besar untuk berkuasa, mereka tidak mau menyerahkannya begitu saja lewat surat suara. Mugabe adalah salah satunya. Dia menghabiskan banyak waktunya di penjara atau pengasingan. Dia menyusup ke Mosambik setelah dibebaskan dari penjara lalu menyusun sebuah kampanye gerilya yang berperan memaksa pemerintah berkuasa Rhodesia ke meja perundingan.

Dalam perkembangannya, kemudian muncul persepsi bahwa para pemimpin Afrika itu tidak demokratis, dan sebagian besar memegang pandangan bahwa gerakan pembebasan memiliki hak khusus untuk memerintah. Peraturan tak tertulis inilah yang kemudian tampak pada fakta bahwa siapa pun yang mau menggantikan gerakan pembebasan harus melawan kekuasaan yang berkuasa saat itu melalui perang dan pertumpahan darah.

Struktur dan sistem pemerintahan di Afrika dibentuk parlemen bergaya Eropa, sistem hukum dan penegakan hukum. Sebagai perluasan, para pemimpin negara-negara Afrika menjaga bentuk itu tapi tetap mengikuti semangat tradisi mereka dalam berkuasa atau malah mengabaikan negara mereka.

Hampir semua pemimpin Afrika terjebak pada nepotisme dan korupsi seperti pendahulu mereka yang ironisnya malah mengkritik dan ditendang secara kasar karena korupsi dan salah urus ekonomi. Ini adalah budaya, bukanlah sebuah penyakit pribadi terkait beberapa pemimpin, karena itu para pemimpin di sana biasanya berumur panjang dan korup.

Seorang pemimpin yang memenuhi kepentingan Barat dijamin akan terus berkuasa, tak peduli seberapa brutalnya dia selama memerintah. Contohnya, dengan dukungan penuh dari AS, meskipun bertindak kejam, pemimpin Kongo, Mobutu Sese Seko tetap saja bisa berkuasa. Washington menganggapnya sebagai sekutu yang sangat diperlukan selama Perang Dingin. Mobutu digulingkan pada 1997, 32 tahun setelah berkuasa, dalam perang sipil pertama Kongo.

Dalam beberapa tahun terakhir, AS memilih menutup mata terhadap sejumlah pemimpin Afrika yang mengadopsi reformasi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia meskipun tidak bermanfaat bagi rakyatnya tapi malah memberikan dana bagi pengekangan terhadap oposisi dan mensponsori gaya hidup mewah para diktator itu.

Mugabe adalah kesayangan pemerintah Barat sampai era pertanian komersial. Secara drastis, dia mengubah persekutuannya dan tetap mempertahankan kekuasaannya atas dukungan dari China. Politik besar jelas-jelas menegaskan keawetan berkuasanya pada pemimpin Afrika.

Di belahan dunia lain, seperti Kuba, misalnya. Pemimpin negara itu berjuang untuk tetap mempertahankan negaranya dari pengaruh kuat kapitalis. Mereka tetap mempertahankan diri sebagai negara terisolir. Mereka khawatir, masuknya pengaruh kapitalis ke negara itu justru akan membuat mereka seolah terjajah. Namun, setelah Fidel Castro mundur dan digantikan adiknya, Raul, beberapa perubahan telah terjadi. Kuba sedikit menjadi lebih terbuka.

Daftar pemimpin dunia ini memang hanya memasukkan para kepala pemerintahan yang masih tetap menjabat. Mereka mendapatkan kuasanya dari kudeta atau “pemilu.”

Jika para raja dan ratu dimasukkan dalam daftar pemimpin terlama yang berkuasa, maka Raja Thailand Bhumibol Adulyadej akan menduduki peringkat pertama setelah berkuasa selama 64 tahun. Dia merupakan raja yang paling berkuasa dalam sejarah kerajaan Thailand. Di belakangnya adalah Ratu Elizabeth II dari Inggris yang telah berkuasa selama 58 tahun dan di tempat ketiga adalah Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam yang telah berkuasa selama 42 tahun.

Sementara, masih ada beberapa nama lain yang sudah lama berkuasa namun tidak masuk daftar. Di antaranya adalah Presiden Uganda Yoweri Museveni yang telah berkuasa sejak 1986, atau hanya “kalah” beberapa bulan lebih pendek daripada Hun Sen.

Kemudian pemimpin Korea Utara Kim Jong-il, yang mengambil alih kuasa negara komunis itu dari ayahnya, Kim Il-sung, pada 1994. Namun, berbeda dari yang lainnya. Kim tampaknya telah siap untuk lengser dalam waktu 2 tahun lagi atau setelah 18 tahun berkuasa karena kondisi kesehatannya yang dikabarkan terus memburuk. Pemimpin nyentrik itu dikabarkan akan menyerahkan tumpuk kuasa pada putra bungsunya, Kim Jong-un.

Masih dari kawasan Asia, muncul juga nama Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev. Dia telah berkuasa selama 19 tahun atau sejak Kazakhstan merdeka dari Uni Soviet pada 1991. Sama seperti Kim Jong-il, dia juga mempersiapkan putri sulungnya, Dariga, untuk menggantikannya. Nazarbayev selama ini dikritik karena nepotisme. Banyak anggota keluarganya yang menduduki jabatan penting pemerintahan.

Tak lupa tentu saja pemimpin kontroversial asal Venezuela, Presiden Hugo Chavez. Berkuasa sejak 1999 atau telah 11 tahun berkuasa, Chavez tampaknya berusaha agar bisa kembali terpilih dalam pemilu mendatang dengan cara mengamandemen konstitusi.

Photo Courtessy: AFP PHOTO/AMR AHMAD

Published: 25 Juli 2010

Update:
Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menghadapi situasi sulit setelah rakyatnya turun ke jalan menuntutnya agar segera mundur. Situasi yang sama juga dihadapi Presiden Mesir Hosni Mubarak. Rakyat Mesir tengah turun ke jalan menyuarakan tuntutan agar presiden yang telah menjabat sejak 1981 itu segera mundur, menyusul keberhasilan rakyat tetangga mereka, Tunisia, yang menumbangkan pemerintahan Presiden Zine El Abidine Ben Ali yang telah 23 berkuasa di negara itu. Revolusi Arab tampaknya akan terus bergulir dan kemungkinan akan diikuti negara-negara di Afrika yang masih banyak dikuasai para diktator. 

 





About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s