Article: Ibu Sekelas dengan Anaknya

Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sebuah pendidikan. Inilah yang dipegang teguh seorang wanita asal Pakistan, Rukhsana Batool, yang tak canggung sekelas dengan anaknya di bangku kelas 1 SD.

Suasana sebuah kelas untuk siswa kelas satu sebuah sekolah dasar (SD) di sebuah desa di kawasan barat laut Pakistan itu penuh suara sorak sorai anak-anak. Tak ada yang berbeda dari sekolah itu. Semuanya normal, layaknya suasana kelas yang lainnya. Para siswa belajar, menjawab pertanyaan guru dan juga memperhatikan semua pelajaran yang diajarkan.Namun, di antara jajaran para siswa yang duduk di kelas itu, tampak seorang siswa yang lain daripada yang lain. Dia terlihat menjulang tinggi di antara teman-teman sekelasnya. Burqa putih yang dikenakannya membuatnya berbeda. Dia adalah siswa kelas itu, bukan seorang guru.

Wanita itu bernama Rukhsana Batool. Dan, dia adalah seorang perempuan normal, tidak mengalami kelainan fisik meskipun tampak menjulang di antara anak-anak yang turut belajar bersamanya di kelas tersebut. Dia juga sama seperti anak-anak itu, menyimak semua pelajaran yang diberikan oleh guru. Yang membedakannya adalah usia.


Jika teman-teman sekelas Batool masih berusia 4—6 tahun, maka wanita ini berusia jauh lebih tua dibandingkan yang lainnya. Perempuan itu berusia 25 tahun, sudah menikah dengan tiga anak dan masih duduk di bangku kelas 1 SD.Agak aneh memang melihat seorang berusia 25 tahun masih duduk di kelas 1 bersama anak-anak yang usianya relatif masih belia. Teman-teman sekelas Batool juga lebih pantas menjadi anaknya. Tapi, wanita itu mengaku nyaman berada di tengah-tengah mereka.

“Saya senang berada di sini,” ujar Batool dari balik burqanya. “Saya biasa mengantar anak saya sekolah dan melihat mereka belajar. Saya rasa saya memang ingin belajar dan bersekolah.”

Batool memang tidak pernah bersekolah seumur hidupnya. Dia beruntung setelah bulan lalu, seorang guru di sekolah itu mendorongnya agar masuk sekolah. Orang tua Batool tak pernah mengizinkannya bersekolah. Padahal, belajar di sekolah adalah impiannya. Tawaran itu pun tak disia-siakannya.

Sekarang, begitu bel sekolah berbunyi, dia akan masuk kelas dan duduk di samping dua teman sekelas favoritnya, dua putra kandungnya, yang berusia 4 dan 5 tahun.

“Dia tertarik bersekolah dan saya menyambut itu,” ujar gurunya, Murred Fizza. “Saya katakan padanya saya akan mengajarinya meski itu berarti saya harus bekerja ketika saya istirahat.”

Batool memang pantas bangga. Tak hanya impiannya untuk bisa membaca, menulis dan mempelajari banyak hal saja yang terwujud, rasa bangga dan semangat juga terus membakar dirinya. Suaminya juga mendorong wanita itu untuk bersekolah di negara di mana pendidikan bagi perempuan masih dianggap tabu karena batasan sosial dan budaya serta menyebarnya ekstrimisme.

Kelompok agama garis keras di negara itu berpandangan bahwa pendidikan untuk wanita itu tidak sesuai ajaran agama dan sering memperingatkan agar keluarga tidak mengirimkan putri mereka bersekolah begitu mereka memasuki masa puber. Kelompok ekstrimis Taliban telah berulang kali membom dan membakar ratusan sekolah, sebagian besar adalah sekolah khusus putri.

Bahkan di beberapa kawasan pedesaan yang lebih moderat di Pakistan, orang tua sering menolak mengirimkan putri mereka bersekolah dengan anak laki-laki. Akibatnya, kehidupan remaja putri sering terjebak dengan pekerjaan rumah atau menikah.

Kajian terbaru menunjukkan hanya 4 dari 10 wanita Pakistan yang bisa membaca dan menulis. Rata-rata buta huruf di negara itu adalah yang terburuk di dunia.

“Salah satu solusi utama terhadap semua masalah yang kita hadapi di negara ini adalah pendidikan bagi wanita,” ujar Fizza. “Saya rasa kalau satu perempuan terdidik, maka seluruh keluarganya pun akan ikut terdidik.”

Batool berharap keberadaannya untuk masuk sekolah, meski harus memulai menjadi murid kelas 1 SD, akan menginspirasi wanita lain di Pakistan untuk bersekolah dan agar pemerintah Pakistan mau berinvestasi lebih dalam pendidikan wanita.

About alvinpirlo

I am everything as I am
This entry was posted in Article and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s